MEDAN, Waspada.co.id – Siapa yang tak kenal Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Tokoh muda perempuan yang mampu membawa Tunas Indonesia Raya (Tidar) dikenal mulai dari daerah hingga ke kancah internasional. Berkat tangan dinginnya, seluruh pengurus Tidar ada di tiap provinsi.
Ketua PD Tidar Sumatera Utara Tia Ayu Anggraini menceritakan, secara history, mba Sara sapaan akrab Saraswati Djojohadikusumo, tidak main-main membawa Tidar sampai dikenal dunia luar. Tidar saat ini memiliki pengurus di luar negeri seperti Turkie, Australia, Malaysia, Singapura, United Kingdom (inggris), Jerman, Prancis, dan Belanda.
“Saya yakin dan percaya bahwa, mba Sara memang layak dan pantas untuk memimpin Tidar kembali. Saat ini keberadaan Tidar bukan hanya di Indonesia, tetapi di beberapa negara. Bukan hanya itu tetapi mba Sara juga mempersiapkan kader-kader Tidar untuk mampu menjadi pemimpin di masa depan. Seperti kader-kader Tidar yang sudah menjadi kepala daerah dan legislatif di beberapa kabupaten/kota. Artinya mba Sara mampu membuat Tidar semakin besar dan harum di semua kalangan,” ungkapnya kepada Waspada Online, Senin (14/4).

Secara pribadi, lanjut Tia, dirinya mengakui banyak mendapatkan ilmu dari seorang tokoh perempuan nasional seperti Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Terlebih lagi Saraswati merupakan inspirasi baginya yang telah lama berproses di Tidar kurang lebih dari tahun 2017.
“Tia ber-Tidar saat itu Ketua Umum Tidar masih dipimpin mas Aryo Djojohadikusumo, dan Tidar Sumut dipimpin bro Ihwan Ritonga. Pengalaman dan ilmu yang ditinggalkan pimpinan sebelumnya masih melekat di pikiran Tia. Lalu 2021 Tia menjadi Ketua Tidar Sumut, beberapa bulan kemudian mba Sara menjadi ketua umumnya,” ujarnya.
Dikatakan Tia, banyak sekali ilmu yang ia dapatkan mulai dari cara seorang perempuan memimpin. Di mana yang tadinya berpikir ragu apakah perempuan bisa mempimpin, dan setelah melihat mba Sara pikiran itu berubah 360 derajat.
“Mba sara itu inspirasi saya. Beliau tegas, pantang menyerah, humblenya luar biasa, seorang ibu yang gak meninggalkan tanggung jawabnya. Pokoknya ilmunya seabrek yang Tia terima. Walau beliau dari trah Subianto dan Djojohadikusumo, beliau memilih jalan berliku naik turun. Tia gak perna lihat mba Sara bersantai-santai, bermewah-mewah maupun menggunakan fasilitas. Sampai-sampai tidurnya di bandara selama berkeliling untuk membentuk Tidar se-Indonesia,” tutupnya sambil berguyon. (wol/mrz/d1)
Editor: Rizki Palepi
Discussion about this post