Tinggal Sepekan Menjabat, Parlemen Amerika Sepakat Dorong Pemakzulan Trump

Presiden AS Donald Trump. (AFP/Jim Watson)
Iklan
WASHINGTON DC, Waspada.co.id – Parlemen Amerika, pada Rabu waktu setempat, sepakat untuk memakzulkan Presiden Amerika Donald Trump. Hal itu dicapai usai voting memenangkan kubu pro pemakzulan dengan perolehan 232 melawan 197. Dengan keputusan tersebut, Donald Trump menjadi Presiden Amerika pertama yang dua kali menghadapi upaya pemakzulan.
“Hari ini, melalui langkah bipartisan, Parlemen membuktikan bahwa tidak ada siapapun yang tidak tersentuh hukum, tak terkecuali Presiden Amerika sekalipun,” ujar ketua Parlemen Amerika, Nancy Pelosi, dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 14 Januari 2021.
Sebagaimana diketahui, upaya pemakzulan Donald Trump tersebut berkaitan dengan peristiwa kerusuhan US Capitol. Dalam peristiwa yang menewaskan 6 orang itu, Donald Trump dianggap ikut bertanggung jawab. Alasannya, sebelum kerusuhan terjadi, Donald Trump sempat meminta para pendukungnya bergerak ke US Capitol dan melawan pengesahan hasil Pilpres Amerika di sana.
Tidak berselang lama setelah peristiwa itu terjadi, berbagai kecaman dan tekanan datang ke Donald Trump. Keterlibatannya di kerusuhan US Capitol diselidiki. Berbagai bisnis memutus hubungan kerjasama dengannya sementara berbagai media sosial memblokir akunnya. Namun, tekanan paling besar datang dari Parlemen yang berwujud pemakzulan.
Seperti yang dikatakan Nancy Pelosi, keputusan untuk memakzulkan Donald Trump pada Rabu kemarin dicapai dengan langkah bipartisan. Sejumlah Republikan juga mendukung. Total ada sepuluh Republikan yang “memberontak” dari koleganya untuk mendukung pemakzulan Trump.
Salah satu Republikan yang mendukung pemakzulan Donald Trump adalah John Katko. Dikutip dari Reuters, Katko menganggap Donald Trump sebagai ancaman nyata terhadap demokrasi di Amerika sehingga sudah saatnya dihukum.
“Membiarkan Presiden Amerika memicu serangan tersebut tanpa menderita konsekuensi apapun adalah ancaman terhadap demokrasi kita,” ujar Katko.
Selain Katko, Republikan Liz Cheney juga termasuk yang mendukung pemakzulan Trump. Menurutnya, Donald Trump memiliki kesempatan untuk mencegah kerusuhan US Capitol, namun ia tidak melakukannya dan malah sibuk mencoba mengubah hasil Pilpres Amerika.
“Tidak ada pengkhianatan lebih besar oleh seorang Presiden Amerika terhadap sumpahnya ke konstitusi Amerika,” ujar Cheney.
Apa yang terjadi selanjutnya tentu sidang pemakzulan. Nancy Pelosi akan memberikan keputusan pemakzulan kepada Senat Amerika untuk kemudian menyidangkan Trump. Namun, dengan masa kepemimpinan Trump hanya tinggal sepekan lagi, beberapa meragukan sidang akan benar-benar berjalan. (reuters)
Iklan