Cengkeh Simeulue dan Sebutan ‘Petro Dolar’ yang Redup Seiring Waktu

foto: istimewa
Iklan

SINABANG, Waspada.co.id – Kota ‘Petro Dolar’. Begitu julukan Simeulue yang terkenal tempo dulu.

Bagaimana tidak, kala itu Simeulue dikenal sebagai daerah penghasil komoditas cengkeh. Hampir rata-rata pelosok masyarakatnya memiliki perkebunan dengan nama lain Syzygium Aromaticum itu.

Begitupun harga jual per kilogramnya terbilang tinggi, bahkan nyaris mengejar harga emas. Boleh dikatakan, perekonomian masyarakat Kepulauan Simeulue khususnya antara tahun 1970 sampai tahun 1980-an, cukup menjanjikan.

“Benar, pulau kita Simeulue ini pernah mengalami masa jaya, sebab harga jual cengkeh sekitar tahun 70-80 an cukup tinggi bahkan tak jauh beda dengan harga emas,” kenang Makdin, salah seorang petani sekaligus pedagang cengkeh di Sinabang.

Walau begitu, tutur putra asli Simeulue ini, sekitar tahun 1991 hingga 1995 harga cengkeh sempat mengalami penurunan drastis alias anjlok. Fase itu disebut warga Simeulue dengan masa paceklik. Namun, selang beberapa tahun kemudian harga cengkeh kembali bersinar.

iklan

“Kalau tidak salah saya, tahun 1999 atau awal tahun 2000 harga cengkeh kembali membaik, bahkan sampai 100 ribu lebih per kilonya. Lalu, di tahun selanjutnya harga turun naik, tapi tidak begitu jauh masih diandalkan masyarakat khususnya petani cengkeh,” kata Makdin.

Tapi sayang, berjalannya waktu julukan ‘Petro Dolar’ redup dan tak lagi menggema. Penyebabnya, lantaran harga cengkeh saat ini tak bisa diandalkan sebagai penopang ekonomi. Pasalnya, harga jual cengkeh kering beberapa tahun belakangan tak sebanding dengan harga kebutuhan pokok plus upah pemetik dan biaya perawatan.

Kondisi ini seolah kontras dengan kebutuhan cengkeh. Misal harga rokok kretek yang kian melambung. Karena itu ia berharap harga cengkeh pulih dan kembali normal. “Semoga harga cengkeh ini kembali naik, minimal bisa membantu ekonomi masyarakat,” harapnya.

Bukan hanya Makdin, keprihatinan jua datang dari Ketua DPC PDIP Simeulue, Rahmad. Melalui media ini, Rabu (13/1), ia menitip harapan ke Pemerintah Aceh dan Pusat. Sebab, kata tokoh muda Simeulue ini, dampak dari merosotnya harga cengkeh memicu redupnya ekonomi Simeulue.

“Kita sangat berharap adanya perhatian pemerintah, khususnya Pemerintah Aceh dan Pusat. Apalagi sekarang di Simeulue sedang panen cengkeh. Kalau harga jual cengkeh begini, saya kawatir masyarakat tidak lagi semangat mengupayakan hasil cengkeh dan mencari pekerjaan lain, akhirnya kebun pun tidak terurus,” ujar Rahmad. (wol/ind/d2)

Editor: Agus Utama

Iklan