EDITORIAL: Was-was Partisipasi Pemilih di Pilkada Medan

Ilustrasi
Iklan

Waspada.co.id – Tak terasa, kurang lebih tujuh hari lagi masyarakat akan melakukan pemilihan kepada daerah (Pilkada) serentak di sejumlah kabupaten/kota di Indonesia. Salah satu kabupaten/kota yang akan melaksanakan pilkada yakni Kota Medan.

Namun memang pilkada serentak tahun ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) khususnya KPU kabupaten/kota, termasuk Kota Medan. Kenapa? masalah utamanya yakni pandemi Covid-19, yang hingga kini trend-nya masih naik turun.

Memang faktanya tidak ada jaminan seorang pemilih tidak akan terkena atau terpapar Covid-19 usai mencoblos di Tempat Pemungutan Suara. Meski memang KPU telah menyiapkan draf Peraturan KPU (PKPU) terkait protokol kesehatan pada Pilkada serentak yang dilakukan 9 Desember 2020.

Dari sejumlah data yang dihimpun, untuk dapat melakukan pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Maka masyarakat diharuskan memakai masker dan juga sarung tangan.

Kemudian masyarakat yang berada di dalam TPS dibatasi‎ jumlahnya, paling banyak kurang lebih 12 pemilih pada satu waktu. Semua protokol kesehatan diatur dalam pencoblosan tersebut.

iklan

Selanjutnya adanya pengecekan suhu sebelum pemilih masuk ke dalam TPS. Apabila ada pemilih yang suhu tubuhnya di atas 37.3 derajat maka dilarang untuk masuk ke TPS, dan pemilih diarahkan ke tempat khusus di luar TPS didampingi oleh orang lain yang dipercaya oleh pemilih atau dibantu petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Lantas, KPPS yang diberi tugas untuk memastikan bahwa pemilih yang mencoblos tidak boleh menyentuh surat suara serta mengisi surat peryataan penampingan pemilih.

Selanjutnya, pemilih yang suhunya di atas 37.3 derajat tadi usai mencoblos maka diberikan tinta di salah satu jari pemilih sebagai bukti telah memilih kepala daerah. ‎Namun pemilih tidak mencelupkan jari ke dalam botol tinta.

Di sisi lain, saat mencoblos, pemilih menggunakan alat coblos berupa paku. Dalam menggunakan alat coblos pemilih menggunakan sarung tangan sekali pakai. Namun jika pemilih yang tidak memakai masker dan sarung tangan. Maka akan disediakan oleh petugas di TPS.

Nantinya alat coblos akan disterilisasi oleh petugas KPPS. Sehingga semuanya diperhatikan benar mengenai protokol kesehatannya saat melakukan pencoblosan.

Pengamat Politik Karyono Wibowo mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 berpotensi mempengaruhi partisipasi masyarakat saat Pilkada 2020. Dia mengatakan dengan kasus infeksi yang semakin meningkat akan membuat pemilih merasa was-was untuk hadir ke tempat TPS pada 9 Desember mendatang.

Apalagi jika warga di sekitarnya ada yang terinfeksi Corona, maka masalah ini membuat tingkat partisipasi pemilih berkurang karena pemilih dihantui oleh Corona yang kapan saja bisa menyerang.

Dampaknya, apabila tingkat partisipasi pemilih menurun maka akan berpengaruh pada legitimasi Pilkada. Kendati demikian kondisi itu juga tidak membatalkan keabsahan hasil Pilkada 2020.

Untuk Pilkada Medan sendiri, selain masalah pandemi Covid-19, buruknya partisipasi pemilih pada Pilkada 2015 lalu juga menjadi sebuah tantangan. Artinya sejarah kelam pesta demokrasi di Kota Medan tidak boleh terulang lagi.

Seperti diketahui bila Partisipasi pemilih pada Pilkada Medan hanya 507.350 orang atau sebesar 25,38 persen dari total pemilih 1.998.835, dengan rincian terdata dalam DPT sebesar 1.985.096 ditambah DPTb1 2.236 pemilih dan DPPh 633 serta DPTb2 sebanyak 10.870.

Faktanya, Pilkada Kota Medan 2015 lalu bukan hanya menjadi sejarah partisipasi pemilih terendah di Kota Medan dan Sumatera Utara sepanjang digelarnya pemilihan umum. Namun di sisi lain juga menjadi partisipasi terendah secara nasional di Pilkada Serentak 2015.

Masalah pandemi Covid-19 dan buruknya partisipasi pemilih pada Pilkada Medan 2015 lalu harus menjadi cambuk bagi KPU Medan untuk lebih bekerja keras. Karena dengan dua permasalahan di atas tadi membuat sejumlah pihak harap-harap cemas dengan partisipasi pemilih di Pilkada Medan tahun ini.

Sekali lagi, KPU Kota Medan harus bekerja lebih ekstra guna mencari solusi dari sejumlah tantangan yang akan dihadapi pada Pilkada Medan tahun ini. Untuk apa? Tentunya agar partisipasi publik untuk mencoblos tidak seburuk pada Pilkada Medan 2015 lalu. Semoga. (***)

Iklan