Luhut Pandjaitan Puji Edhy Prabowo Berjiwa Ksatria

Luhut Binsar Panjaitan (Foto: Okezone)
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) yang saat ini menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan ad interim Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Edhy Prabowo yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka merupakan sosok yang baik.

Bahkan Luhut menyebutnya sebagai soaok ksatria langaran telah mengambil tanggung jawab setelah tindak pidana korupsi izin ekspor benur yang dilakukannya terciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya tahu Pak Edhy itu sebenarnya orang baik, bahwa ada kejadian seperti ini, bahwa beliau langsung ambil alih tanggung jawab dan itu sebagai ksatria,” kata Luhut usai menggelar rapat dengan Eselon I di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (27/11).

Dia juga meminta agar tak ada lagi yang diragukan terhadap KKP berkaitan dengan kejadian penangkapan terhadap Edhy Rabu (25/11) dini hari lalu. “Saya kira ndak ada yang perlu ragu kita ndak perlu apa kecil hati, sudah kejadian kita sayangkan peristiwa ini,” kata dia.

Saat ditanya soal kekosongan jabatan Menteri KKP dan kandidat yang akan mengisi, Luhut meminta agar hal itu dipertanyakan langsung pada Presiden Joko Widodo. Sebab kata dia, perihal penunjukan dan pengangkatan menteri adalah hak perpgratif presiden.

iklan

Dia menyebut bahwa dirinya tak terlibat dalam hal tersebut. Dia bahkan mengaku tak ingin berlama-lama menjabat sebagai ad interim di KKP. “Tanya presiden. (Kandidat) Mana saya tahu kalau itu, kau tanya yang punya pekerjaan. Soal jabatan ini saya juga nggak mau lama-lama, pekerjaan saya banyak kok,” kata dia.

Edhy ditetapkan KPK sebagai tersangka bersama enam orang lainnya dalam dugaan korupsi izin ekspor benih lobster.

Enam tersangka lainnya ialah stafsus Menteri KP, Safri dan Andreau Pribadi Misata; Pengurus PT Aero Citra Kargo, Siswadi; staf istri Menteri KP, Ainul Faqih; Amiril Mukminin; dan Direktur PT Dua Putra Perkasa, Suharjito.

Edhy bersama sejumlah pihak diduga menerima uang Rp9,8 miliar dan US$100 ribu. Ia menggunakan uang tersebut untuk belanja beberapa barang mewah di Honolulu, Hawai, Amerika Serikat. (cnnindonesia/ags/data3)

Iklan