Gubsu Ajak Optimalkan Industri Sawit Dengan Prinsip Berkelanjutan

Foto: Biro Humas dan Keprotokolan Setda Provsu
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Industri kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia. Sayangnya, banyak tudingan negatif yang dialamatkan pada industri ini, khususnya berkaitan dengan lingkungan.

Untuk itu, seluruh pengusaha yang bergerak di sektor sawit khususnya di Sumut diharapkan senantiasa mengutamakan prinsip berkelanjutan. Hal ini disampaikan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi saat membuka Webinar 5th Indonesia Palm Oil Stakeholders (IPOS) Forum, Kamis (26/11).

“Sebagai provinsi dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas kedua setelah Riau, perkebunan kelapa sawit telah banyak mendorong pertumbuhan dan pembangunan di Sumut. Saat ini, luas lahan sawit di Sumut itu sekitar 1.312.913,70 hektare. Bayangkan kalau kita kelola berkesinambungan dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan prinsip lingkungan,” harap Edy.

Gubsu turut mengapresiasi pelaksanaan IPOS Forum yang diharapkan menghasilkan kajian-kajian memajukan industri kelapa sawit dan mendatangkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap memperhatikan keseimbangan aspek sosial dan lingkungan. Selain itu, terjalin sinergi dan kerja sama yang lebih baik antara semua stakeholder menghasilkan regulasi yang lebih baik.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, memberikan apresiasi kepada GAPKI Sumut dan GAPKI Aceh atas terselenggaranya IPOS Forum. Joko juga berterima kasih atas dukungan pemerintah, dalam hal ini Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud dan Gubsu terhadap industri sawit.

iklan

“Tak bisa kita pungkiri, bahwa industri sawit berkontribusi sangat nyata pada perekonomian dan pembangunan Indonesia. Industri ini begitu penting, sehingga produksinya perlu terus dikembangkan. Namun tidak bisa kita pastikan kejayaan sawit dua pada 20 tahun mendatang masih bisa dipertahankan. Untuk itu, penting sinergi dari semua pihak,” jelas Joko.

Kunci industri sawit bisa bertahan, ungkap Joko, harus mampu mempertahankan daya saing dan keberlanjutan keduanya sangat dipengaruhi oleh regulasi. Untuk itu, dirinya sangat menyambut Undang-Undang Cipta Kerja yang diharapkan mampu mendorong dan menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk kemudahan usaha, investasi, dan lapangan kerja.

Ketua Panitia Webinar 5th Indonesia Palm Oil Stakeholders (IPOS) Forum, Andi Suwignyo, mengatakan ada sebanyak 400 peserta baik online maupun offline dari berbagai elemen stakeholder kelapa sawit mengikuti kegiatan.

Mengusung tema ‘Quo Vadis Kepastian Hukum dalam Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif pada Industri Kelapa Sawit Indonesia’, IPOS Forum membahas berbagai kendala yang dihadapi industri kelapa sawit, mengkaji berbagai aspek kepastian hukum serta merumuskan kajian yang komprehensif untuk memberi masukan dalam rangka menyelaraskan peraturan turunan kelengkapan UU Cipta Kerja. (wol/aa/data3)

editor AUSTIN TUMENGKOL

Iklan