Wakil Ketua MPR Minta Polisi Bersikap Humanis Terhadap Para Aktivis

Ahmad Muzani (Foto: Okezone)
Iklan
agregasi

JAKARTA, Waspada.co.id – Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani meminta agar pihak kepolisian bersikap humanis dan mengutamakan pendekatan persuasif kepada aktivis atau para pendemo Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Terlebih, kepada sejumlah aktivis yang ditangkap karena diduga terlibat aksi.

“Tujuannya agar aksi unjuk rasa dapat tetap terjaga,” kata Muzani melalui keterangan resminya, Kamis (15/10/2020).

Politikus Gerindra tersebut mengaku prihatin atas penangkapan para aktivis, diantaranya Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan serta belasan anggota Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) oleh pihak berwajib.

Sebab, menurutnya, mereka merupakan aktivis yang menyuarakan aspirasi atas berbagai macam keprihatinan yang dirasakan rakyat.

“Saya pribadi merasa bahwa mereka yang ditangkap itu adalah kawan-kawan, saudara-saudara yang merupakan seorang aktivis sejati. Mereka adalah sosok yang terus menerus menyuarakan berbagai macam keprihatinan terhadap apa yang dirasakan oleh rakyat saat ini,” kata Muzani.

iklan

Muzani juga menyatakan keprihatinannya atas sejumlah aksi unjuk rasa di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan belakangan. Keprihatinan itu diungkapkan Muzani merujuk makna yang terkandung dalam demonstrasi atau aksi unjuk rasa.

Aksi unjuk rasa, lanjut Muzani, senyatanya merupakan wadah rakyat dalam mengutarakan perasaan dan pendapat terkait kebijakan yang diterbitkan pemerintah. Namun, momen yang sakral dan dilindungi oleh negara lewat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum itu diungkapkan Ahmad Muzani justru dinodai dengan aksi kekerasan.

Karena itu, dirinya berharap aksi unjuk rasa yang digelar masyarakat berjalan damai dan kondusif. Sehingga aspirasi dapat tersampaikan tanpa merugikan orang lain.

“Keprihatinan ini tentu saja menjadi sesuatu yang penting, karena tujuan dari unjuk rasa itu adalah menyampaikan perasaan, agar perasaan tentang persoalan yang dikemukakan itu bisa terungkap. Tapi kemudian karena terjadinya berbagai macam gesekan, akhirnya apa yang menjadi aspirasi justru menjadi bias,” ujarnya.

Iklan