Sebentar Lagi Masyarakat Bisa Mencetak Sendiri Dokumen Kependudukan

WOL Photo
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Medan, Zulkarnain, menyebut saat ini pelayanan administrasi kependudukan (adminduk) sudah semakin mudah. Pasalnya seluruh pelayanan tersebut beralih ke sistem online atau digitalisasi pelayanan.

“Jadi masyarakat tidak perlu datang secara fisik, tapi bisa melakukan permohonan pendaftaran penduduk melalui aplikasi Sibisa yang sudah disiapkan. Bahkan sebentar lagi, masyarakat bisa mencetak sendiri dokumen kependudukan mereka yang sudah dimohonkan,” ungkapnya kepada Waspada Online, Selasa (20/10).

Agar bisa terlaksana pencetakan sendiri dokumen kependudukan tersebut, lanjut Zulkarnain, setiap warga yang memohon harus mencantumkan email pada lembaran form yang disediakan.

“Jadi nanti setelah diterbitkan, kami (Disdukcapil) akan mengirimkan via email dokumen warga bersangkutan. Ke depan kita akan tempatkan mesin-mesin pencetakan di 21 kecamatan,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, transformasi digital pelayanan publik yang paling menonjol dan sudah dilaksanakan Disdukcapil Kota Medan, yang pertama adalah pelayanan daring melalui program aplikasi Sibisa. Kedua pihaknya sudah menerapkan tanda tangan berbasis elektronik, jadi berbagai dokumen kependudukan sudah tertera tandatangan yang dimaksud.

iklan

“Gunanya apa, untuk menjaga keaslian dan keakuratan data penduduk yang diberikan kepada masyarakat. Sehingga tidak mudah dipalsukan dan sebagainya. Yang ketiga adalah rencana untuk pencetakan sendiri berbagai dokumen kependudukan yang dimohonkan masyarakat,” imbuhnya.

Zulkarnain menambahkan, pekerjaan terakhir dari Disdukcapil Medan sekarang ini adalah membangun kultur di masyarakat. Secara instrumental, pihaknya sudah menyiapkan berbagai infrastruktur maupun supra struktur pelayanan secara digital.

“Tetapi supaya pengembangan secara struktural dan instrumental digital itu bisa semakin optimal dan efektif, perlu juga diikuti dengan budaya, kultur dan pelayanan publik yang semakin kondusif (sehat),” ucapnya.

Karena, sebutnya, kultur ini menyangkut sikap dan perilaku pelayanan publik baik oleh petugas pemberi pelayanan maupun sikap dan perilaku dari sisi penerima pelayanan (masyarakat).

“Misalnya program lima S yang sudah kita jalankan. Nah dari sisi masyarakatnya apa kulturnya, pertama ketika terjadi peristiwa kependudukan masyarakat menyegerakan permohonan pendaftaran kependudukannya. Jangan ditunggu pada saat dibutuhkan. Yang kedua, mau menyediakan waktu untuk mengurus dokumen kependudukan, nggak usah pakai calo. Kita harus sama-sama membasmi praktik percaloan, apalagi sudah ada pelayanan daring (online). Masyarakat bisa sambil beraktivitas kapanpun dan dimanapun dia bisa malakukan pendaftaran penduduk,” pungkasnya.(wol/mrz/data3)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan