Perguruan Tinggi Dituntut Mewujudkan Kurikulum yang Mengarah Pada Praktik Sociopreneur

foto: istimewa
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Sociopreneur atau wirausaha sosial adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis dengan misi utama menciptakan social iImpact, yang meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat. Misi sociopreneur adalah memandirikan masyarakat. Oleh karenanya, perguruan tinggi turut bertanggungjawab untuk mewujudkan kurikulum yang mengarah pada praktik sociopreneur.

Hal ini sebagaimana disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prof. Dr. Pratikno, M.Sos.Sc pada seminar daring bertajuk “Socioprenuer Sebagai Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Keilmuan” yang digelar oleh Forum Dekan Ilmu-ilmu Sosial (Fordekiss), Sabtu (3/10).

Dia mengatakan bahwasanya kurikulum itu bukan semata kumpulan mata kuliah saja. Namun merupakan ekosistem pendidikan. Sehingga perkuliahan itu bukan hanya kegiatan belajar dan mengajar saja.

“Kurikulum bukanlah semata kumpulan mata kuliah, tapi merupakan ekosistem pendidikan. Kurikulum sudah harus lintas disiplin. Kuliah bukan teaching, tapi mentoring. Mungkin saja mahasiswa menjadi smart digitalpreneur. Sehingga dosen harus berubah,” sebut Pratikno, yang menjadi pembicara dalam seminar daring itu.

Pratikno mengatakan Fordekiss harus bisa mendalami perubahan ekosistem pendidikan terutama dalam penyusunan kurikulum. Metode belajar harus disusun bukan hanya untuk mahasiswa namun juga untuk dosen.

iklan

“metode belajar disusun agar lebih agile dan learner. Situasi itu bukan hanya ditujukan untuk mahasiswa tetapi juga bagi dosen, tenaga pendidikan yang diinisiasi oleh pimpinan perguruan tinggi secara cepat,” urai Mensesneg yang juga alumni Fordekiss dalam Webinar yang diikuti sekitar 340 peserta itu.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Fordekiss, Dr Muryanto Amin, S.Sos M.Si memaparkan butuh komitmen pimpinan perguruan tinggi untuk mengubah budaya mengajar di universitas untuk merespon program Merdeka Belajar yang saat ini tengah digaungkan pemerintah.

“Komitmen pimpinan dan mengubah budaya mengajar dosen dan mahasiswa serta memperkecil urutan birokrasi kampus menjadi tidak terhindarkan merespon merdeka belajar dan perubahan yang begitu cepat terjadi di dunia,” sebut Muryanto Amin yang juga saat ini menjabat Dekan FISIP USU.

Muryanto Amin menyatakan upaya ilmu-ilmu sosial berkolaborasi dengan ilmu-ilmu lainnya merupakan tantangan yang harus dikelola secara baik. Terutama untuk menyesuaikan budaya belajar dari analog menjadi digital,.

‘Pihak perguruan tinggi juga harus mengundang para profesional untuk menjadi role model bagi mahasiswa dan dosen. Hal ini juga harus segera dirumuskan oleh Fordekiss,” tukasnya.

Tidak hanya diikuti oleh para dosen, webinar ini juga diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. (Wol/rls/ega/data2)

Iklan