Patuhi 7 Etika Ini Saat Berwisata di Alam Liar

Ilustrasi (ist)
Iklan

Waspada.co.id – Sudah banyak yang memahami, kalau wisata di kebun binatang atau akuarium amat bertentangan dengan usaha menjaga kesejahteraan fauna.

Namun, belum banyak yang memahami bahwa ada banyak tempat wisata dengan konsep ekowisata yang hanya berusaha mengeruk keuntungan tanpa memedulikan keberlangsungan hidup satwa.

Pekan ini ramai diberitakan bahwa di salah satu area Taman Nasional Komodo sedang dilakukan pembangunan fasilitas wisata, yang mengakibatkan satu unit truk melintas di depan komodo.

Begitu foto truk versus komodo tersebut viral, netizen jadi mempertanyakan bentuk tanggung jawab pengelola dan pemerintah Indonesia terhadap kelestarian alam.

Ben Pearson dari World Animal Protection, operator wisata yang baik ialah yang menawarkan kegiatan wisata pengamatan alam liar langsung di habitatnya, sehingga tak ada fauna yang dikurung atau dilatih untuk jinak.

iklan

Turis juga dilarang berinteraksi terlalu dekat dengan satwa, sehingga mereka bisa memperlihatkan karakternya secara alami.

Berikut tujuh hal yang perlu diketahui turis soal wisata di alam liar:

1. Jaga jarak
Bisa berada dekat hewan liar tentu saja menjadi keinginan sebagian besar turis. Perasaan seperti itu disebut hipotesis biofilia, yang berarti manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mencari hubungan dengan alam.

Tapi menjauhkan manusia dari flora atau fauna di alam liar sebenarnya menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan untuk kelestariannya.

“Jika tempat pariwisata menawarkan kesempatan untuk menunggangi, menyentuh, atau berswafoto dengan hewan liar, kemungkinan besar hewan tersebut diperlakukan dengan kejam,” kata Pearson.

Pertunjukan hewan, menunggang gajah, berenang lumba-lumba di penangkaran, dan berinteraksi dengan kucing besar adalah contoh pengalaman wisata yang diklaim oleh pakar kesejahteraan hewan membahayakan kesejahteraan hewan, tetapi banyak juga interaksi lain yang tampaknya tidak berbahaya namun tetap dapat memiliki dampak buruk yang sama.

“Bahkan hewan yang lebih kecil tidak dapat bertahan dengan baik jika ditangani oleh manusia,” kata Pearson, menambahkan bahwa kungkang yang digunakan dalam industri pariwisata biasanya mati dalam waktu enam bulan setelah ditangkap.

Sebagai alternatif, turis bisa melakukan wisata pengamatan hewan liar di habitat aslinya dengan pendakian atau naik jip yang dipimpin oleh pemandu berpengalaman.

2. Wisata di habitat asli
Objek wisata alam memberikan kesempatan berharga untuk melihat dan mempelajari fauna yang sulit dilihat di alam liar.

Ada gunanya melakukan penelitian untuk memastikan objek wisata yang akan dikunjungi beroperasi tanpa merusak alam sekitarnya.

“Lihat di mana dan bagaimana hewan-hewan ditempatkan di sana,” kata Pearson.

Objek wisata alam yang benar-benar peduli dengan kelestarian alam biasanya tak membiarkan pengunjung melakukan kontak langsung dengan flora atau faunanya.

3. Jangan beri makan
“Meskipun ada niat baik, memberi makan hewan liar memberi banyak keburukan daripada kebaikan,” kata Pearson.

Fauna yang diberi makan turis biasanya menjadi ketergantungan dan agresif.

Di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, penjaga hutan seringkali dipaksa untuk memusnahkan beruang liar yang membahayakan manusia akibat sering diberi makan.

Sejumlah penelitian juga menyimpulkan bahwa memberi makan satwa liar dapat mendatangkan malapetaka pada pola perkembangbiakan dan migrasi mereka.

4. Waspadai operator “greenwashing”
Suguhan kegiatan lebih dekat dengan flora atau fauna biasanya menjadi slogan objek wisata alam liar. Padahal, interaksi yang disebut “greenwashing” tersebut tak melulu baik. “Kegiatan memandikan gajah itu salah satu yang kurang tepat,” kata Pearson.

“Banyak orang percaya kegiatan itu adalah alternatif yang lebih baik daripada menunggangi gajah. Perlu diketahui kalai gajah biasanya membasuh dirinya dengan lumpur sebagai perlindungannya dari matahari. Kegiatan memandikan gajah yang terlalu sering dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mereka.”

Contoh lain adalah berenang dengan biota laut liar yang diberi umpan atau diberi makan untuk mendekatkannya dengan manusia.

Industri wisata pengamatan hiu paus di Oslob di Filipina, misalnya, telah dianggap berhasil mengangkat masyarakat lokal keluar dari kemiskinan, tetapi fakta bahwa hiu paus hanya berkumpul di sana karena terbiasa diberi makan telah mendorong para konservasionis untuk mempertanyakan usaha kelestarian alamnya.

5. Perhatikan konsumsi
Tahukah Anda, bahwa Anda dapat membantu melindungi satwa liar hanya dengan mengamati apa yang Anda makan selama perjalanan?

“Kami mendorong para pelancong untuk menghindari hal-hal seperti daging semak, yang sering diburu dan dibunuh secara tidak manusiawi,” kata Pearson.

Dan jangan lupakan soal minuman. Populer di Asia Tenggara, anggur ular biasanya dibuat dengan menenggelamkan ular hidup dalam alkohol, sementara kopi luwak diproduksi dengan mengurung musang.

6. Berbelanja dengan bijak
Hindari berbelanja oleh-oleh yang berasal dari flora atau fauna yang dilindungi, seperti obat-obatan tradisional atau perhiasan dari terumbu karang.

“Sebaliknya, belilah suvenir yang diproduksi secara lokal dan ramah lingkungan. Anda akan mendukung komunitas dan budaya lokal, dan juga melindungi hewan,” kata Pearson.

7. Kritik di media sosial
Mengunggah bukti sahih soal rusaknya alam atau terabaikannya flora dan fauna yang patut dilestarikan bisa dilakukan di media sosial. “Meningkatkan kesadaran akan perlakuan buruk terhadap flora dan fauna adalah salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan orang untuk menghentikannya,” kata Pearson.

Pearson menambahkan, bukti mencintai tumbuhan dan hewan bukan berarti hanya dengan memesan paket wisata lalu mengunjungi tempat yang “menjajakan” dua hal tersebut.

Melakukan pemesanan wisata alam melalui operator yang sudah terbukti peduli dengan alam – walau terkadang harganya sedikit lebih mahal atau jaraknya lebih jauh, bisa menjadi usaha kita sebagai turis untuk menjaga Bumi beserta isinya. (cnnindonesia/ryan/pel/d2)

Iklan