Pandemi, Universitas Dituntut Manfaakan Teknologi Tepat Guna

Foto: Ist
Iklan

Medan, Waspada.co.id – Transformasi digital yaitu proses perubahan keseluruhan budaya dan lingkungan pekerjaan dari lingkungan non-digital menjadi lingkungan digital, juga terjadi pada dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi atau universitas.

Universitas dituntut untuk mampu memanfaatkan teknologi yang tepat guna untuk menjawab kebutuhan dari tenaga kependidikan, dan mahasiswa selaku civitas akademik. Kemudian juga dituntut untuk memberikan layanan akademik dan non-akademik yang tidak lagi berbasis manual, serta meninggalkan tradisional. Hal ini disampaikan Dekan Fisip USU, Dr. Muryanto Amin M.Si dalam webinar nasional bertajuk ‘Digital Akademik; Mencari Jalan Keluar Kesenjangan Antara Digital dan Analog’, Kamis (1/10).

“Tujuan utama universitas melakukan transformasi digital ialah untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah digital (digital friendly),” ucap Muryanto Amin.

Namun lanjut Muryanto, mengubah skema suatu universitas menjadi digital friendly university bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, universitas yang memutuskan melakukan transformasi digital harus melibatkan 3 aspek yang saling mendukung, yaitu pengguna, sistem, dan lingkungan.

Komitmen pimpinan universitas (rektorat, senat akademik, dan majelis wali amanat) agar memerankan digital leadership, yaitu menjalankan strategi digital dengan memanfaatkan teknologi guna mencapai tujuan utama.

iklan

Teknologi dan alat yang digunakan harus memenuhi prinsip easy, simple, friendly, reliable, tepat sasaran, ramah lingkungan (green), smart, dan agile. Selanjutnya, dosen dan tenaga kependidikan harus bersahabat dengan teknologi agar menjadi agen digital transformation atau agen perubahan untuk mulai merealisasikan sebuah ide menjadi inovasi yang nyata.

“Sebagian besar universitas masih memanfaatkan media daring yang sudah tersedia untuk memperlancar proses pekerjaan dan perkuliahan karena dianggap lebih efisien,”ujarnya.

Tetapi sebut Muryanto, percepatan kemajuan teknologi menuntut perubahan dalam dunia pendidikan, sistem digital internal dari universitas pada akhirnya akan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindarkan.

“Terlebih saat pandemi covid-19 ini, keharusan tidak bertemu fisik dan menjaga jarak, membuat para tenaga pendidik dan tenaga kependidikan seolah dipaksa memastikan layanan akademik dan nonakademik terus berjalan dengan memanfaatkan teknologi,” urainya.

Inovasi layanan akademik menjadi sangat penting untuk menjawab hambatan yang terjadi di masa pandemi. Civitas akademika harus bersahabat dengan dunia digital. Digital friendly university memerlukan kerja sama yang kuat di antara civitas akademika dalam memberikan layanan akademik dan nonakademik secara digital. Kecepatan dan kemudahan layanan digital akan dirasakan dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran serta kemudahan pimpinan universitas mengambil keputusan.

“Tantangan mewujudkan layanan digital yang paling sulit ialah memastikan standar prosedur dijalankan secara pasti dan transparan,”pungkasnya.

Selain Amin Muryanto, webinar nasional yang dimoderatori oleh Dekan Fisip Unej Prof. Hadi Prayitno itu juga menghadirkan Dekan Fisip Unhas Prof. Armin Arsyad dan Dekan FEMA IPB Prof. Ujang Sumarwan sebagai narasumber. (Wol/rls/data3)

Iklan