Istri Korban Pembunuhan Protes, Terdakwa Divonis Ringan

WOL Photo/Ryan
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Putusan yang dijatuhi hakim Pengadilan Negeri Medan terhadap kasus pembunuhan dan penganiayaan yang dilakukan tiga terdakwa Mahyudi, Agus Salim, dan Mursalin di depan Cafe Mie Aceh Delicious Cafe Jalan Pasar Baru Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru diwarnai protes. Pasalnya pihak keluarga korban keberatan terhadap putusan hakim yang dinilai terlalu ringan.

Hal itu terlihat dari suasana saat sebelum sidang dimulai. Keluarga korban yang membawa sejumlah massa dan spanduk bertuliskan “Menolak untuk pelaku dihukum ringan dan menginginkan ketiga terdakwa yang melakukan pembunuhan terhadap Abadi Bangun untuk dihukum seberat-berat sesuai perbuatannya,” ujarnya.

Suasana semakin tegang saat majelis hakim yang diketuai Tengku Oyong memutuskan pembunuh Abadi Bangun dengan hukuman ringan. Isak tangis istri dan keluarga korban pun pecah. Ia tidak rela, jika ketiga terdakwa masing-masing hanya dijatuhi hukuman 1 tahun 8 bukan penjara.

“Putusan hakim sangat ringan, ini tidak adil, jangan mentang-mentang kami tak punya duit diperlakukan tidak adil, ini masalah nyawa hakim harus adil ini kenapa hakim tidak adil pembunuh suami ku hanya di hukum 1tahun 8 bulan,” kata istri korban sembari menjerit dan menangis di Pengadilan Negeri PN Medan Selasa (20/10).

Majelis hakim akhirnya memutuskan terdakwa secara sah melakukan penganiayaan yang didahului dengan pertengkaran. Dengan pasal 351 ayat (3) KUHP dan menjatuhkan pidana terhadap Tiga terdakwa Mahyudi, Agus Salim,
Mursalin pidana penjara selama 1 tahun 8 bulan

iklan

Vonis tersebut lebih ringan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Rizqi Darmawan yang sebelumnya menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman penjara 2 tahun 2 bulan. Putusan tersebut berkekuatan hukum tetap (inkrah). Terdakwa menerima dan begitu, Jaksa apenuntut Umum (JPU) mengambil keputusan menerima.

Sedang atas putusan tersebut, Ketua Hakim Tengku Oyong persilakan terdakwa dan JPU untuk pikir-pikir atau banding. Namun, terdakwa memilih untuk menerima putusan itu.

“Kami terima,” ucap terdakwa yang suaranya terdengar dari seberang layar hape.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Rizqi Darmawan sebelumnya menyebutkan
kasus ini bermula pada hari Selasa tanggal 29 Januari 2020 sekira pukul 02.00 Wib, korban Abadi Bangun datang ke Cafe Mie Aceh Delicious Cafe yang dikelola oleh terdakwa Mahyudi dan memesan nasi goreng.

“Setelah selesai dibuat, terdakwa Agus Salim (berkas terpisah) menyerahkan nasi goreng tersebut kepada korban. Selanjutnya korban mengatakan kepada Agus Salim bahwa uangnya akan diantar nanti oleh seseorang,” tutur jaksa di depan majelis hakim diketuai Jarihat Simarmata.

Lebih lanjut jaksa menjelaskan pada saat itu Agus Salim mengatakan kepada korban untuk menunggu karena akan menyampaikan terlebih dahulu kepada pengelola cafe sehingga pada saat itu korban emosi dan melemparkan bungkusan nasi goreng tersebut ke arah muka Agus Salim. Namun Agus Salim menghindar. Kemudian korban
(Abadi Bangun) pergi meninggalkan Cafe Mie Aceh tersebut.

“Selanjutnya Agus Salim melaporkan hal tersebut kepada terdakwa Mahyudi dan tidak berapa lama korban datang kembali bersama dengan temannya dengan membawa sebilah parang. Lalu Mahyudi mendatangi korban dan terjadi pertengkaran mulut,” jelas jaksa.

Kemudian korban mengayunkan parang yang dibawanya kearah Mahyudi dan Mahyudi menangkis dengan tangannya. Selanjutnya Mahyudi mengambil balok kayu broti dan memukulkannya ke kepala korban sehingga korban terjatuh di aspal.

“Lalu datang terdakwa Mursalin (berkas terpisah) menendang korban secara berulang ke arah wajahnya dan mengambil parangnya. Tidak berapa lama datang lagi terdakwa Agus Salim memukul korban dengan balok kayu broti ke arah kepalanya. Korban lalu dibiarkan tergeletak di aspal jalan raya di depan Cafe Mie Aceh tersebut,” beber jaksa.

Tidak berapa lama datang saksi Hendri Kapri Simorangkir dan membawa korban ke Rumah Sakit Siti Hajar dan pihak rumah sakit mengatakan bahwa korban sudah meninggal dunia.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat 1 sub Pasal 170 ayat 2 ke 3 atau Pasal 351 ayat 3 Jo Pasal 55 ayat 1 KUHPidana,” pungkas jaksa.(wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan