Bawaslu Panggil Akhyar Terkait Laporan Dugaan Pelanggaran Kampanye

WOL Photo/Iman S.Harahap
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Calon Wali Kota Medan No Urut 1, Akhyar Nasution, dipanggil Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk klarifikasi dugaan pelanggaran pidana berkampanye di tempat pendidikan yang melibatkan anak bawah umur.

Dikatakan, Sesuai jadwal Akhyar diminta hadir Selasa pagi, pukul 09.00 WIB. Namun, Akhyar belum hadir ke Sekretariat Bawaslu Medan.

Demikian dikatakan Anggota Bawaslu Medan Taufiqurrahman Munte Kepada Waspada Online. “Iya benar kita panggil Pak Akhyar Nasution, tapi sampai saat ini belum hadir,” katanya, Selasa (20/10).

Sebelumnya, Akhyar dilaporkan karena dugaan pelanggaran atas larangan dalam berkampanye di lembaga pendidikan serta juga melibatkan anak bawah umur.

“Diatur dalam UU Nomor 7 tahun 2017 Pasal 280 ayat 1 tentang larangan dalam berkampanye, di mana ada 10 larangan diantaranya adalah penegasan dilarang berkampanye menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah dan tempat pendidikan,” ungkapnya.

iklan

Selanjutnya, pada ayat 2 juga diatur bahwa pelaksana atau tim kampanye dalam berkampanye dilarang mengikutsertakan warga negara Indonesia yang tidak memiliki hak memilih, sesuai poin (k).

“Sanksi atas pelanggaran larangan ini diatur dalam pasal 521. Pelaksana, Peserta atau Tim Kampanye Pemilu yang dengan sengaja melanggar Larangan Pelaksanaan Kampanye Pemilu. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 280 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, atau huruf j, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp24 juta,” Pungkasnya.

Diketahui, Akhyar dilaporkan warga bernama Hasan Basri Sinaga ke Bawaslu Kota Medan pada 17 Oktober 2020 lalu. Kegiatan kampanye Akhyar Nasution yang dilaporkan adalah kala mengunjungi Lembaga Rumah Tahfiz Anwar Saadah di Jalan Persamaan Gang Aman No.62, Simpang Limun, Medan Amplas, pada 14 Oktober 2020, yang diunggah ke media sosial Facebook.

“Akhyar Nasution datang ke lokasi dan disambut dengan Sholawat Badar oleh siswa tahfiz yang kebanyakan merupakan anak dibawah umur,” urai Hasan Basri dalam laporannya. (wol/man/d2)

Editor: Sastroy Bangun

Iklan