Warga Sipil Jadi Korban, Erdogan Desak Armenia Angkat Kaki dari Nagorny-Karabakh

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (AFP/Adem Altan)
Iklan

Waspada.co.id – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak Armenia segera menarik diri dari Nagorny-Karabakh. Seruan itu dilontarkan Erdogan setelah bentrokan mematikan pecah di sepanjang perbatasan wilayah Azerbaijan yang memisahkan diri itu.

“Waktunya untuk mengakhiri krisis di kawasan, yang dimulai dengan pendudukan Nagorny Karabakh,” kata Erdogan, Senin (28/9) seperti dikutip dari AFP.

Menurut dia, kawasan itu akan kembali damai setelah Armenia angkat kaki dari wilayah yang didudukinya.

Armenia dan Azerbaijan terlibat dalam sengketa wilayah Nagorny-Karabakh selama beberapa dekade. Mereka berperang pada awal 1990-an yang merenggut 30 ribu nyawa.

Turki mendukung Azerbaijan dan secara historis memiliki hubungan buruk dengan Armenia.

iklan

Erdogan menyalahkan Armenia karena memulai eskalasi baru. Dia menuduh Amerika Serikat, Rusia serta Prancis yang tergabung dalam “Grup Minsk” gagal menangani konflik tersebut.

“Mereka tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut,” kata Erdogan. “Sekarang Azerbaijan harus mengatasi sendiri masalah ini.”

Nagorny-Karabakh merupakan bagian wilayah Azerbaijan yang dihuni oleh mayoritas etnis Armenia. Sejarah konflik dua pihak yang berada di wilayah Kaukasus ini sudah terjadi sejak perang Nagorno-Karabakh pada 1980 hingga 1994.

Usai keruntuhan Uni Soviet, wilayah ini memproklamasikan kemerdekaannya pada 1991. Namun, itu tak diakui dunia internasional. Referendum kemudian dilakukan pada 2017 dengan mayoritas mendorong kemerdekaan.

Negara-negara besar pun kembali tak mengakui hasilnya. Hanya kepada Armenia Karabakh bergantung.

Perundingan berlarut-larut yang dimediasi negara-negara besar hingga kini tetap tak menemui hasil signifikan. Gencatan senjata antara Karabakh dengan Azerbeijan terakhir terjadi pada 1994.

Sementara itu korban tewas perang terbaru antara Armenia dengan Azerbaijan terus bertambah.

Kementerian Pertahanan Karabakh pada Senin malam mengatakan sedikitnya 26 tentara mereka tewas, sehingga totalnya 84.

Jumlah korban tewas secara keseluruhan meningkat menjadi 95, termasuk 11 warga sipil, sembilan di Azerbaijan dan dua di pihak Armenia. (cnn/data2)

Iklan