Umrah Kembali Dibuka, DPR Senang Hati Sambut Kebijakan Arab Saudi

Ilustrasi (ist)
Iklan
agregasi

JAKARTA – Pemerintah Arab Saudi segera membuka layanan ibadah umrah secara bertahap mulai 4 Oktober 2020 mendatang, setelah beberapa bulan dihentikan akibat pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Kabar ini pun disambut gembira Komisi VIII DPR yang membidangi soal haji dan umrah.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang mengaku sangat senang mendengar kabar segera dibukanya kembali layanan umrah oleh Pemerintah Arab Saudi ini. “Kita senang hati mendengarkan kebijakan yang diambil Pemerintah Arab Saudi ini karena sebelum menemukan vaksin dan obat yang mujarab untuk melawan Covid-19 ini, tidak boleh tidak, kita harus hidup bersama Covid-19,” tuturnya, Rabu (23/9/2020).

Marwan yang juga Ketua Panja Haji DPR ini mengatakan, kebijakan tersebut sangat tepat. Sebab, jika harus menunggu sampai vaksin ditemukan diperkirakan masih bakal lama.

“Sementara orang mau beribadah banyak hal yang terkait di dalamnya. Di sisi lain ada keinginan spiritual, di satu sisi di dalamnya ada juga proses manajemen dan bisnis. Kalau lama-lama berhenti, ini akan banyak manajemen yang kesulitan untuk mengatur perusahaannya. Bisa-bisa mereka akan digeruduk oleh jamaah yang tidak diberangkatkan dan lama-lama akan habis modalnya,” katanya.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, selama ini sejak pemberhentian layanan umrah yang disusul dengan tidak adanya pengiriman ibadah haji, perusahaan atau agen perjalanan umrah dan haji tidak bisa memutarkan modal usahanya. Dengan dibukanya kembali layanan umrah meski secara bertahap dan terbatas, menurut Marwan, hal itu akan itu akan menjawab dua persoalan sekaligus.

iklan

Pertama, yakni menjawab kebutuhan spiritual umat muslim dunia, dan kedua adalah menjawab harapan para agen perjalanan dalam melangsungkan usahanya. “Kita memahami dilakukan secara bertahap karena tidak bisa dibuka langsung full 100%. Bertahap dulu supaya ada pembiasaan manajemen pengaturan pergerakan orang,” katanya.

Kedua, dengan pelaksanaan secara bertahap dan terbatas, bisa diketahui seperti apa protokol kesehatan dijalankan. Dan ketika langkah awal hanya dibuka 30% dari kapasitas, bagaimana kondisi jamaah ketika nanti kembali dari umrah apakah semua selamat atau seperti apa.

“Jadi kita tentu sangat bergembira karena kebutuhan jamaah muslim sedunia akan terjawab, sekalipun terbatas. Itu akan mengurangi antrian. Jadi ada harapan lah kalau sudah dibuka. Ya umpamanya begini, ada orang yang sudah lama berharap akan melaksanakan umrah, kalau sudah dibuka gini, ada harapan, kalau gak bisa bulan depan, ya bulan depannya lagi, ada harapan,” urainya.

Iklan