Tim Tabur Kejatisu Tangkap DPO Kasus Korupsi Setelah Tiga Hari Diintai

foto: kejatisu
Iklan

MEDAN, Waspada.co.id – Tim Tabur (Tangkap Buronan) dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara berhasil menangkap buronan tindak pidana korupsi terkait pekerjaan di BRR NAD-NIAS Tahun 2006.

Penangkapan tersebut langsung dipimpin oleh Asintel Kejatisu Dwi Setyo Budi Utomo SH.MH, beserta Jajaran Tim Tabur Intelijen Kejati Sumut.

“Menangkap SFH Mantan Kuasa Direktur CV.HARAPAN INSANI selaku Rekanan pada proyek pembangunan perumahan di Nias,” terang Plt Kasi Penkum Kejatisu, Karya Graham, Jumat (18/9).

Plt itu juga mengatakan, pada saat dilakukan penangkapan DPO tidak berada di kediamannya yang berada di kota Sibuhuan, melainkan hanya istrinya yang bekerja sebagai PNS di Pemkab Palas dan anaknya yg berada di rumah tersebut. DPO berdasarkan penyelidikan Tim sedang berada di kebun sawit miliknya.

“Areal kebun sawit milik DPO tersebut seluas 15 Hektar yang baru dibelinya. Di tempat tersebut DPO ini telah membangun rumah, dan ada aktifitas beternak. Lokasi kebun berada di kecamatam Sosa, lokasi sudah berada di tepi hutan yang jauhnya sekitar 25 km dari Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas,” ungkapnya.

iklan

“Tim sebelumnya sudah berada selama 3 hari untuk melakukan pengamatan dan penggambaran terhadap aktifitas yang bersangkutan yang selalu berpindah, namun karena kesigapan dan kesabaran tim akhirnya DPO bisa diamankan,” tambahnya

Karya juga menjelaskan, tersangka berinisial SFH ini merupakan DPO Kejaksaan Negeri Gunung Sitoli dalam perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Perumahan Type 36 sebanyak 58 unit Lokasi Desa Tulumbaho sekitarnya di Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, pada badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD – Nias tahun 2006 yang menimbulkan kerugian negara sebesar Rp454.476.400.

Dilanjutkan, tersangka merupakan subjek penyidikan telah melarikan diri sehingga menghambat proses tindak lanjut penyidikan perkara ini dan proses penyidikan atas tindak pidana yang disangkakan terhadap tersangka sempat dihentikan sementara karena tersangka telah melarikan diri sejak tahun 2008 dan menjadi buron selama 12 tahun.

“Saat dilakukan penangkapan tersangka cukup Kooperatif dan saat ini tersangka dibawa langsung ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang selanjutnya akan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Gunung Sitoli untuk dilakukan proses hukum terhadap tersangka oleh penyidik Kejaksaan Negeri Gunung Sitoli,” pungkasnya.(wol/ryan/data2)

Editor: SASTROY BANGUN

Iklan