Studi Ungkap Penyebab Infeksi Covid-19 Jadi Mematikan

(Ilustrasi/Shutterstock)
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Sebuah studi baru yang terangkum dalam jurnal merangkum serangkain hipotesis soal dugan Bradykinin menjadi penyebab efek infeksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 jadi parah dan mematikan.

Bradykinin adalah peptida 9 asam amino, dan memiliki banyak aktivitas biologis. Peptida manusia yang tidak terkendali yang disebut bradykinin dapat menyebabkan beberapa gejala yang bervariasi dan terkadang mematikan yang terlihat pada orang yang tertular virus corona.

Fungsi Bradykinin
Bradykinin biasanya membantu mengatur tekanan darah, sayangnya virus corona tampaknya mendorong produksi bradykinin menjadi berlebihan bagi beberapa orang. Hal ini lantas menyebabkan semacam “badai bradykinin”. Badai ini membuat tubuh bereaksi menimbulkan sejumlah gejala yang umum muncul pada Covid-19.

Bradykinin menurunkan tekanan darah dengan cara melebarkan pembuluh darah, tetapi hal itu menyebabkan kontraksi otot polos di paru-paru dan usus. Bradykinin juga membuat pembuluh darah bocor dan menyebabkan cairan berkumpul di jaringan tisu dan organ lain, seperti dikutip dari The Scientist.

Sebagian besar pasien Covid-19 juga muncul gejala gangguan pernapasan akut (ARDS), peradangan dan edema, dan penumpukan cairan. Hal ini bisa terjadi akibat pembuluh darah yang bocor, sel kekebalan (serta sitokin dan molekul lain yang diproduksi olehnya), dan protein plasma. Bradikinin merupakan salah satu protein plasma yang bisa menyebabkan peradangan akut ini.

iklan

Batuk kering juga diperkirakan menjadi efek yang disebabkan oleh bradykinin akibat saraf di saluran napas bagian atas yang jadi terlalu sensitif.

Efek ke paru-paru
Tim penelitian memeriksa kembali komposisi cairan paru-paru yang dikumpulkan dari pasien virus corona. Tim menemukan bahwa penyakit Covid-19 menurunkan jumlah ACE dan meningkatkan jumlah ACE2 yang digunakan oleh virus corona sebagai titik masuk ke tubuh manusia.

Faktanya, ACE2 tampaknya meningkat 200 kali lipat. Padahal biasanya ACE2 dalam kadar tinggi tidak ditemukan dalam jaringan paru-paru.

Ketidakseimbangan ini menyebabkan kadar bradykinin meningkat. Pada kenyataannya, sebagian besar protein yang terlibat dalam produksi dan memberikan sinyal bradykinin tidak terdeteksi dalam cairan paru-paru dalam kondisi normal. Akan tetapi protein itu naik tajam selama infeksi virus corona.

Sementara enzim yang terlibat dalam degradasi bradykinin turun. Di jaringan paru-paru, ketidakseimbangan baru ini menyebabkan nyeri, pembuluh darah melebar, dan peningkatan permeabilitas vaskular meningkat.

Sistem bradykinin juga memiliki hubungan kompleks dengan pembekuan darah, yang dapat terkait dengan beberapa patologi virus korona yang diamati di area itu juga.

Dilansir dari Sciencemag, penulis jurnal segera menyarankan beberapa intervensi dengan obat yang disetujui FDA. Tidak semua ini dapat ditindaklanjuti.

Dilansir dari New Science, saat ini ilmuwan telah memiliki obat untuk mengendalikan bradykinin. Obat sedang diuji sebagai pengobatan untuk orang dengan Covid-19. (cnnindonesia/ags/data3)

Iklan