Lagi, Indonesia Kehilangan Wartawan Besar

Jakob Oetama (Priyambodo RH)
Iklan

Mengenang Jakob Oetama

Oleh: Tribuana Said

RABU lepas tengah hari, 9 September, masyarakat pers Indonesia khususnya, bangsa Indonesia umumnya yang mengenalnya, setidaknya mengetahui ketokohannya sebagai wartawan dan keberhasilannya sebagai pengusaha pers, atau sedikitnya pernah membaca sejumlah karya tulisnya di harian Kompas, baik laporan byline atau secara anonim dalam rubrik tajuk, ditambah lagi buku-buku karangannya atau tentang pikiran-pikirannya yang diterbitkan Penerbit Kompas, dikejutkan oleh berita sedih melalui media siaran dan media online bahwa Jakob Oetama, pendiri dan pemimpin redaksi harian Kompas sejak tahun 1965, meninggal dunia karena faktor usia dan gangguan multiorgan di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Barat.

Lagi, negara kita kehilangan salah satu wartawan besarnya.

Di Medan, di antara generasi penerus pra dan pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tergolong wartawan besar, lebih dikenal sebagai ulama, khususnya kemudian ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Jakarta, adalah Hamka dari surat kabar Pedoman Masjarakat; suami-istri Mohammad Said dan Ani Idrus, pendiri harian Waspada; dan Arif Lubis, Mimbar Umum. Tidak lupa di Banda Aceh, terakhir lebih dikenal sebagai gubernur, adalah wartawan pejuang Ali Hasjmy dari Semangat Merdeka.

iklan

Di Jakarta, wartawan-wartawan besar, yang telah lebih dulu dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa, di antaranya Adam Malik, Kantor Berita Antara; suami-istri B.M. Diah-Herawati Diah, pendiri Merdeka dan Indonesian Observer; Mochtar Lubis, Indonesia Raya; Rosihan Anwar, Pedoman.

Di Makassar, antara lain LE Manuhua, Pedoman Rakyat, dan, terakhir lebih dikenal sebagai politisi Partai Nasional Indonesia (PNI), Manai Sophiaan, Suara Indonesia. Di Surabaya, antara lain terakhir suami-istri Abdul Azis-Toety Azis, Surabaya Post. Di Yogya, Madikin Wonohito, Kedaulatan Rakyat. Di Semarang, Hetami, Suara Merdeka. Di Bandung, Djamal Ali, Pikiran Rakyat dan beberapa koran lain, dan seterusnya.

Kita catat di sini nama-nama mereka untuk mengingat kembali jasa mereka dan banyak lagi di sejumlah kota-kota di Indonesia sebagai wartawan pejuang. Kalau tidak pers nasional sendiri yang mengenang mereka bukan mustahil ke depan generasi baru negeri ini, termasuk generasi baru pers kita, akan melupakan para wartawan pejuang tersebut. Padahal dosen kenamaan Universitas Cornell, Ben Anderson, sampai mengajukan tesis melalui buku dan tulisannya bahwa Indonesia adalah hasil perjuangan pers nasional.

Hubungan generasi tua-muda pers kita
Tidak lama setelah kabar wafatnya Jakob Oetama meluas se-Indonesia, Teruna Jasa, Wakil Pemred Harian Waspada, menelepon saya.

Bang, udah tau Pak Jakob berpulang… Tulis In Memoriam ya. Maksudnya tulisan mengenang alm. Jakob Oetama untuk Waspada.

Itu bukan pekerjaan gampang, pikir saya spontan.

Ayo lah, bang. Adik kandung saya tersebut, 16 tahun di bawah usia Pak Jakob, terus membujuk. Dan juga memotivasi.

Kalau Pak Rosihan Anwar masih ada di tengah-tengah kita, pasti dia akan menulis untuk Waspada, katanya.

Oke lah, jawab saya. Mendengar nama Pak Rosihan — “ayatollah” pers Indonesia – bisa-bisa kualat jika tidak dihormati.

Dengan pengantar seperti di atas, saya ingin menggambarkan bahwa wartawan generasi baru Indonesia, seperti Teruna Jasa, Prabudi Said, Rayati Syafrin, Sofyan Harahap, dll di Waspada, atau di banyak koran-koran lama dan baru di hampir semua kota-kota besar di Indonesia, bukan hanya mengenal, melainkan lebih dari itu tidak jarang cukup akrab dengan sosok Pak Rosihan ataupun Pak Jakob. Mereka berdua, Pak Rosihan sebagai wartawan pejuang dan Pak Jakob sebagai pemimpin grup media yang sukses puluhan tahun, adalah ikon pers Indonesia yang menginspirasi para praktisi muda di negeri sebesar Indonesia ini.

Profesi dan organisasinya
Sebagai generasi antara wartawan pejuang dan generasi penerus, bagi saya sangatlah membanggakan menyaksikan tali silaturahim dan persahabatan antara generasi tua dan generasi baru pers kita. Dan dalam catatan saya, yang patut diingat, keakraban, bahkan persahabatan antara generasi wartawan tua dan muda ini adalah berkat program kerja pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan cabang-cabangnya di berbagai provinsi tanah air.

Selama puluhan tahun PWI selalu mengagendakan kegiatan silaturahim nasional, kongres dan konferensi terbuka, seminar dan lokakarya, dengan narasumber tokoh-tokoh pers nasional, seperti Rosihan Anwar dan Jakob Oetama, juga dengan partisipasi elit politik dan ekonomi Indonesia. Ini sisi positif suatu profesi yang didukung organisasi praktisi yang peduli. Dan apalagi berorganisasi, dengan berbagai hak dan kewajiban anggota, adalah salah satu syarat bahkan kriteria sebuah profesi. Dalam hal ini, jasa Pak Jakob patut menjadi elemen penting dalam mengenang jasa wartawan besar kelahiran desa dekat Candi Borobudur ini.

Saya pribadi pertama mengenal Pak Jakob mulai saat masuk kepengurusan PWI Pusat di awal 1970-an. Kami bersama Harmoko, Djafaar Assegaff dan beberapa rekan lain sempat diundang mengikuti lawatan kenegaraan Presiden Suharto ke lima negara sahabat. Ternyata tidak semua acara resmi presiden dapat kami ikuti. Sementara kesan-kesan kepala negara baru diberikan kepada rombongan pers menjelang tiba kembali di Jakarta. Hemat saya lawatan kenegaraan presiden, seperti pengalaman kami, tidak harus diikuti para pemimpin redaksi. Bisa oleh wartawan senior, yang pasti lebih cekatan, setidaknya wartawan istana. Saya teruskan ide itu kepada pihak Sekretariat Negara yang rupanya dapat menerima.

Selain menunjukkan kepedulian kepada rekan-rekan media yang resah menghadapi kekuasaan yang semakin otoriter, Jakob Oetama juga sangat memahami kepentingan lebih besar dunia pers dalam mendorong pembangunan pemerintahan yang demokratis dan berprikemanusiaan. Ketika Presiden Suharto membredel tujuh surat kabar ibukota, selain harian Kompas sendiri juga Merdeka, Sinar Harapan, Pos Sore, Indonesia Times, Pelita dan Sinar Pagi, dengan alasan telah “menghasut, yang langsung maupun tidak langsung merupakan ancaman terhadap keamanan dan ketertiban” dalam pemberitaan mereka, Pak Jakob di mata saya tampak jauh lebih gelisah atas tindakan pembredelan yang buruk itu tidak saja karena telah memberangus kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpikir serta berpendapat, tetapi juga mengancam sumber kehidupan para wartawan dan karyawan.

Artinya, masalah nasional bukan sekadar memilih antara dua cara pemberitaan yang ekstrim, tetapi bagaimana mendamaikan ke duanya dalam suatu masa transisi. Ini juga tercermin dalam laporan peninjauan Pak Jakob bersama beberapa pimpinan media lainnya ke Pulau Buru di mana mendekam para tahanan G30S/PKI.

Sebagaimana pendapat sebagian pemerhati Jakob Oetama, saya dapat menyatakan bahwa sosok wartawan besar ini adalah semua ciri-ciri ini: Penulis bermartabat dan santun, pendebat keras yang enak didengar karena penuh substansi, dan salah satu pemikir filosofis utama Indonesia. Penting saya tegaskan lagi bahwa dia adalah rekan seprofesi pers yang akrab dan bersahabat. Maka pers Indonesia betul-betul kehilangan seorang wartawan besar yang khas Jakob Oetama. (**)

Iklan