Kasus Covid-19 Terus Bertambah, Ini Curahan Hati Para Nakes di Garda Terdepan

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Iklan

Waspada.co.id – Kasus Covid-19 semakin hari kian bertambah dan memakan korban jiwa. Dari yang semula tiga kasus positif terinfeksi virus corona pada awal Maret 2020, enam bulan berikutnya lantas berlipat menjadi 252.923 kasus positif per 22 September 2020.

Dari ratusan ribu kasus tersebut, 184.298 pasien berhasil sembuh dan 9.837 meninggal. Dari pasien positif Covid-19 yang meninggal ini, termasuk di antaranya tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, apoteker juga, ahli laboratorium medik.

Para tenaga kesehatan mengungkapkan curahan hatinya dan menitipkan pesan untuk masyarakat agar patuh pada protokol kesehatan demi mencegah penyebaran virus corona. Protokol kesehatan ini meliputi selalu menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Apoteker

Apoteker merupakan tenaga kesehatan yang bertugas mendistribusikan obat kepada pasien. Pada masa pandemi ini, para apoteker berhadapan langsung dengan banyak pasien Covid-19.

iklan

“Saat ini apoteker memberikan pelayanan terkait obat dengan kontak langsung dengan masyarakat di apotek, puskesmas, dan rumah sakit,” kata Ketua Bidang Apoteker Advance dan Spesialis PP Ikatan Apoteker Indonesia Profesor Kerry Lestari Dandan dalam talkshow BNPB, Selasa (22/9).

Bekerja sebagai apoteker memberikan risiko yang nyata terhadap Covid-19. Secara rinci, hingga 21 September tercatat 803 apoteker positif Covid-19, 283 apoteker kontak erat dengan pasien positif, 723 apoteker menjalani isolasi mandiri, 640 apoteker sudah sembuh, dan 6 apoteker meninggal dunia.

Kendati menghadapi tekanan yang nyata, Kerry menekankan, apoteker siap untuk mengabdi pada masyarakat.

“Namun, tentu saja ini semua salah satu pengabdian profesi yang harus kami lakukan, apapun yang terjadi apoteker harus tetap bersama masyarakat terutama mengawal penggunaan obat yang rasional dan mempunyai kemanfaatan dan aman untuk masyarakat,” tutur Kerry.

Karena itu Kerry meminta masyarakat untuk patuh terhadap protokol demi menjaga diri agar tidak terinfeksi Covid-19.

Perawat

Hingga saat ini tercatat 85 perawat meninggal dunia karena Covid-19.

“Untuk yang terinfeksi, kami baru empat provinsi yang sudah konfirmasi yakni Jawa Timur 844 perawat, DKI Jakarta 1.629 perawat, Sulawesi Selatan 350 perawat, dan di Bali per 9 Agustus 156 perawat. Saya kira akan lebih dari ribuan perawat kalau dikumpulkan seluruh Indonesia,” rinci Ketua Umum DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah.

Harif berharap agar pemerintah bisa memberikan fasilitas pemeriksaan virus corona gratis kepada petugas kesehatan untuk mengetahui penyebaran dan mengambil tindakan dengan cepat. Tes PCR-Swab ini juga dapat membuat perawat merasa nyaman bertugas, aman, dan tidak menjadi sumber penularan kepada yang lain.

Bidan

Sekretaris Jenderal PP Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Ade Jubaedah menjelaskan, bidan juga merupakan tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Hingga 21 September, 2.291 bidan positif Covid-19, 93 suspek, 223 kontak erat, 746 sedang menjalani isolasi mandiri, 178 sedang dirawat di rumah sakit, 1.345 orang sembuh, dan 22 bidan meninggal dunia.

Untuk mencegah penyebaran, para bidan di seluruh Indonesia kini direkomendasikan untuk bertugas secara online. Pertemuan dengan pasien dilakukan seminimal mungkin, misalnya saat waktu melahirkan dan dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap.

“Sebelum datang ke bidan, hubungi dulu, buat janji temu. Lalu harus siap dengan APD,” kata Ade.

Ahli Laboratorium Medik

Tenaga ahli laboratorium medik atau kini dikenal dengan ahli teknologi laboratorium medik (ATLM) merupakan tenaga kesehatan yang berada di pelayanan laboratorium. Selama pandemi Covid-19, pengambilan sampel untuk pemeriksaan Covid-19 dilakukan oleh ATLM.

“Setiap hari teman-teman kami selalu berjuang bagaimana menjaga diri tidak terpapar Covid-19 dan selalu berupaya sebaik-baiknya untuk masyarakat dan di situlah terjadi risiko terjadi,” jelas Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia NS Widodo.

Hingga saat ini di seluruh Indonesia, terdapat 492 ATLM yang terinfeksi Covid-19 dengan 4 orang meninggal dunia. Widodo berharap agar pemerintah juga dapat memberikan perhatian pada ATLM yang umumnya kerap merasakan kelelahan.

“Kami menyadari bahwa seluruh anggota kami setiap hari selalu mengalami kelelahan fisik itu kami semangati terus supaya tetap berjuang penuh keikhlasan,” ucap Widodo.

Dokter Gigi

Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia RM Sri Hananto Seno menjelaskan, dokter gigi yang saat ini berjumlah sekitar 34 ribu juga memiliki risiko tinggi terhadap Covid-19.

“Profesi dokter gigi adalah suatu profesi yang tertinggi karena satu-satunya mungkin pasien atau masyarakat selalu buka masker sehingga memiliki risiko yang tinggi untuk penularan,” kata Hananto.

Hananto mengungkapkan saat ini terdapat 115 dokter gigi yang masih positif Covid-19. Pada umumnya, mereka terpapar dari puskesmas, rumah sakit, dan dari dinas kesehatan.

Hananto juga berharap agar pemerintah memberikan sarana untuk deteksi dini pada tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.

“Sehingga memberikan moral yang kuat, kalau moral kuat dan sistem pertahanan yang kuat akan menghasilkan pelayanan yang sebaik-baiknya,” ujar Hananto.

Dokter

Jumlah dokter yang gugur karena Covid-19 terus bertambah. Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga 21 September 2020, terdapat 117 dokter yang meninggal dunia.

“Penularan di petugas kesehatan tinggi karena memang petugas kesehatan yang bersentuhan dengan pasien Covid-19 sehingga risikonya sangat tinggi, perlindungan ini sangat berarti bagi kami,” ungkap Ketua Umum IDI dokter Daeng Faqih dalam kesempatan yang sama.

Menyikapi jumlah kasus harian yang kini sudah mencapai 4.000 kasus, Daeng meminta pemerintah untuk dapat menambah kapasitas rumah sakit agar seluruh masyarakat dapat terlayani.

“Kalau tidak ditambah, kami khawatir ada saudara kita yang sakit tidak mendapat pelayanan. Dan juga berisiko pada petugas jika rumah sakit overload akan gampang kelelahan dan memudahkan penularan penyakit,” tutur Daeng.

Daeng meminta masyarakat untuk patuh dan disiplin pada protokol kesehatan sehingga jumlah kasus dapat ditekan dan tidak bertambah. Dengan begitu, masyarakat terlindungi, begitu pula tenaga kesehatan.

“Kalau tidak disiplin, penularan akan tetap tinggi, segiat apapun penambahan kapasitas akan terlampaui,” ujar Daeng. (cnnindonesia.com/data3)

Iklan