Indonesia Disebut Bisa Bebas Covid-19 Tanpa Vaksin, Ini Respon Menristek

Bambang Brodjonegoro. (IST)
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro menyatakan vaksin dibutuhkan dalam menanggulangi pandemi Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2.

Hal ini diungkap Bambang menanggapi kemungkinan Indonesia bisa bebas dari pandemi Covid-19 tanpa vaksin seperti yang sebelumnya terjadi saat penanggulangan SARS dan MERS.

Sebab, Bambang beralasan pandemi Covid-19 berbeda dengan pandemi Severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). “Virus Covid-19 akan bersama umat manusia untuk waktu yang tidak pendek. Agar ada imunitas massal perlu dibantu vaksin,” ujar Bambang kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/9).

Bambang menuturkan menghadapi pandemi Covid-19 tidak cukup dengan mengandalkan daya tahan tubuh atau dengan bantuan suplemen, vitamin, olahraga, dan lain-lain. Dia menyebut penanggulangan pandemi Covid-19 tetap memerlukan vaksin.

Salah satu bukti diperlukannya vaksin untuk menangani pandemi Covid-19, kata dia terlihat dari seluruh negara yang berupaya mengembangkan vaksin. Bahkan, dia menegaskan China yang merupakan negara pertama ditemukannya virus corona SARS-CoV-2 sangat aktif mengembangkan vaksin.

iklan

Lebih lanjut, Bambang menuturkan vaksin khusus Covid-19 diperlukan mengingat vaksin flu yang ada saat ini tetap perlu diperbarui. Meski tidak merinci, dia berkata pembaruan vaksin flu dilakukan pada periode tertentu.

Dia juga mengingatkan virus corona SARS-CooV-2 sangat menular dan berbahaya bagi yang tenaga kesehatan dan yang memiliki penyakit bawaan.

“Perlu diperhatikan bahwa meskipun tingkat fatalities Covid relatif rendah, tetapi sangat menular dan berbahaya bagi yang terpapar virus dalam jumlah besar,” ujarnya.

Bambang menambahkan menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M)adalah upaya mencegah penularan. Sedangkan pengetesan, penelusuran, dan isolasi (3) adalah untuk mencegah fatalities.

“Keduanya (3M dan 3T) harus dilengkapi vaksin untuk perkuat imunitas bersama suplemen, vitamin, dan lain-lain,” ujar Bambang.

Sebelumnya, Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo meyakini Indonesia bisa bebas dari pandemi virus corona Covid-19 tanpa harus menunggu keberadaan vaksin maupun obat. Ia mengatakan ini karena keberadaan vaksin dan obat yang masih memakan waktu lama.

Kunci pemutusan mata rantai pandemi Covid-19 berada di kombinasi 3T (testing, tracing, dan treatment) serta 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan).

Kunci ini juga harus didukung dengan kebijakan lockdown atau Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB) yang harus dituruti oleh masyarakat menghentikan mobilitas yang menjadi faktor penyebaran Covid-19.

“Kombinasi 3T, 3M dan dalam tanda kutip lockdown. Karena uji klinis vaksin belum tentu berhasil, jadi perlu langkah antisipatif,” ujar Ahmad saat dihubungi, Minggu (13/9).

Ahmad mengatakan pandemi SARS dan MERS yang diakibatkan dengan virus corona yang mirip dengan virus SARS-CoV-2 dapat dituntaskan tanpa adanya vaksin dan obat. Sebab, kedua pandemi itu berakhir sebelum uji klinis selesai.

Namun patut diingat bahwa penyakit SARS dan MERS ini cukup mudah untuk diidentifikasi karena menimbulkan gejala bagi orang yang terinfeksi.

Sehingga pihak berwenang bisa dengan mudah melakukan isolasi para penderita ini. Di sisi lain, banyak pasien Covid-19 yang sama sekali tak menimbulkan gejala. “Intinya pengendalian wabah SARS dan MERS mudah karena cukup fokus pada yang bergejala,” kata Ahmad.

Ahmad menjelaskan mengapa pasien SARS dan MERS bisa menimbulkan gejala sementara pasien Covid-19 banyak yang tak menimbulkan gejala.

Menurut Ahmad, virus SARS-CoV-2 lebih menyukai untuk menginfeksi saluran napas atas, seperti rongga hidung, faring, dan laring sebagai tempat untuk bereplikasi. Hal ini mengakibatkan orang yang terinfeksi tak menyebabkan gejala.

Sekalipun ada gejala, Ahmad mengatakan banyak orang yang tak menyadari karena hanya sekedar gejala flu seperti sedikit pilek dan bersin.

“Infeksi rongga nafas atas tidak bikin sesak nafas. Dampaknya karena bereplikasi di rongga atas adalah gejala yang nampak tak begitu berat. Bahkan 80 persen orang tidak ada gejala atau sangat ringan, namun begitu sampai di paru, baru dia mulai nampak gejalanya,” kata Ahmad. (cnnindonesia/ags/data2)

Iklan