Ditangkap, Pelaku Pelecehan Rapid Test di Soetta Ternyata Belum Berstatus Dokter

Foto: Istimewa
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Polres Bandara Soetta meringkus petugas medis rapid test berinisial EFY itu di daerah Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara.

EFY ditangkap saat sedang berada di sebuah indekos. “Yang bersangkutan ditangkap bersama teman wanitanya di daerah Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara. Di tempat tinggal sementara atau kos-kosan,” kata Kasatreskrim Polresta Bandara, Kompol Alexander Yurikho, Sabtu (26/9) kemarin.

Tersangka petugas rapid test risiko Covid-19 yang melakukan pencabulan terhadap penumpang di Bandara Soekarno Hatta belum mendapatkan status sebagai dokter.

Alexander Yurikho mengatakan tersangka berinisial EFY itu baru hanya memiliki gelar sarjana kedokteran dari sebuah universitas swasta di Sumatera Utara.

Itu, kata dia, merupakan buah dari keterangan PT Kimia Farma selaku penyelenggara rapid test di Bandara Soetta. “Didapatkan keterangan bahwa tersangka adalah memiliki gelar akademis berupa Sarjana Kedokteran (S.Ked),” kata Alexander.

iklan

Alexander menuturkan nantinya penyidik bakal berkoordinasi dengan pihak kampus terkait gelar sarjana yang dimiliki tersangka. “Penyidik pastikan status akademik dari tersangka dengan berkonfirmasi universitas swasta di Sumatera Utara tempat tersangka menempuh pendidikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Alexander, penyidik juga segera meminta keterangan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk memastikan profesi tersangka.

IDI sendiri sebelumnya telah menyatakan EFY tak terdaftar sebagai anggotanya. Tak hanya itu, EFY juga tidak terdaftar sebagai dokter di lembar negara Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

“IDI akan segera memberikan keterangan untuk lebih memastikan profesi dan status dari tersangka,” tutur Alexander.

Sejauh ini, penyidik telah memeriksa 15 orang saksi dalam kasus yang menimpa penumpang berinisial LHI saat menjalani rapid test di Bandara Soetta.

Kasus ini terungkap ke publik karena viral setelah LHI membagikan peristiwa yang dialaminya lewat akun Twitter, @listongs.

Dalam unggahannya itu, LHI mengungkapkan dirinya diminta membayar Rp1,4 juta untuk mengubah hasil rapid test dari reaktif menjadi non reaktif. Tak hanya itu, LHI juga membeberkan bahwa dirinya mengalami aksi pelecehan.

EFY sendiri saat ini telah dijerat ancaman berlapis yakni Pasal 289 KUHP tentang pencabulan dan atau Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau Pasal 268 KUHP tentang pemerasan.

Diketahui, tersangka petugas rapid test risiko Covid-19 yang melakukan pencabulan terhadap penumpang di Bandara Soekarno Hatta sempat melarikan diri ke Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara sebelum ditangkap polisi.

Polisi mengatakan tersangka, EFY, mencoba kabur hingga ke Balige setelah ramai di media sosial mengenai aksi cabul dan pemerasannya terhadap perempuan penumpang di bandara Soetta. EFY yang ditangkap pada Jumat (25/9) pagi tadi itu telah dibawa ke Jakarta guna diperiksa lebih dalam oleh polisi.

“Dia (EFY) mengaku bahwa mendengar adanya cuitan kemudian langsung melarikan diri menggunakan kendaraan umum langsung ke Sumut,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jumat (25/9). (wol/cnnindonesia/ags/data3)

Iklan