Apa Yang Salah Dengan Kegiatan Zikir Gemilang?

foto: istimewa
Iklan

Banda Aceh, Waspada.co.id – Sepanjang sejarah Pemko Banda Aceh, baru masa pemerintahan Aminullah Usman dan Zainal Arifin, Pendopo Wali Kota menjadi lokasi zikir rutin setiap minggunya.

Ribuan warga tumpah ruah setiap Jumat malam. Namun sejak pandemi Covid-19 merebak kegiatan zikir dihentikan sementara.

Namun, warga kota berharap kegiatan zikir bisa dilanjutkan dengan mematuhi protokol kesehatan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Pengajian dan Zikir Gemilang, Tgk Jumaris mengatakan kegiatan zikir gemilang yang akan dilaksanakan di Banda Aceh akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Mungkin hanya dihadiri oleh pimpinan dayah dan beberapa jamaah saja dan warga dirumah tetap bisa mengikuti kegiatan zikir melalui siaran langsung di beberapa radio, kita ingin syiar Zikir tetap bergemuruh di Banda Aceh untuk bersama berikhtiar kepala Allah Subhanahu Wata’ala agar pandemi ini segera berakhir, ” ujarnya.

iklan

Terkait adanya pernyataan dari Ahmad Humam Hamid yang menyebutkan Zikir Gemilang akan menjadi Zikir Gemilang Aceh, Tgk Jumaris menyayangkan hal tersebut. Dia menjelaskan MPG sedang mengatur metode pelaksanaan Zikir di masa pandemi ini, tetap dengan protokol kesehatan.

“Dari awal terbentuknya Majelis Pengajian Zikir Gemilang, kami tidak pernah berniat menggiring zikir sebagai sarana politik praktis, penyataan Ahmad Humam Hamid ini sangat tendensius, apalagi mengatakan sebagai jalan menuju Zikir Gemilang Aceh (Gubernur),” jelasnya.

Dalam salah satu media online lokal, Humam Hamid menulis sebagai berikut :

“Publik tahu “Zikir Gemilang” adalah made in Walikota Banda Aceh dan tengah berevolusi untuk menjadi “Zikir Gemilang Aceh” ketika saatnya tiba. Anggap saja itu niat baik, tetapi niat baik yang tidak diimbangi dengan “tahu baik” belum cukup untuk kemaslahatan publik,” tulis Humam Hamid.

Tgk Jumaris berharap Humam Hamid tak hanya asal menulis opini, namun tidak pernah terlibat aktif dalam penanggulangan Covid-19 di Aceh.

“Selaku guru besar di Unsyiah, apa yang sudah dilakukan oleh Humam Hamid dalam penanggulangan Covid-19 di Aceh, kami melihat malah Rektor Unsyiah yang sangat aktif di masa pandemi ini, selain itu kenapa hanya Zikir Gemilang yang disorot, bukankah Shalat berjamaah juga tidak dilarang di seluruh Aceh,” ungkapnya.

Tgk Jumaris berharap akademisi memberikan masukan yang positif tanpa mengedepankan kepentingan politik terselubung.

“Pilkada masih tahun 2022, ada baiknya saat ini kita bersinergi melawan peredaran Covid-19, lihat saja hari ini beberapa warkop sudah dirazia, Perwal 51 Banda Aceh adalah bukti keseriusan Wali Kota bersama Forkopimda untuk menjaga kesehatan warga kota,” pungkasnya. (wol/drs/data2)

Iklan