Meski Ditanggapi Skeptis, Rusia Mulai Produksi 5 Juta Dosis Corona yang selesai Desember Nanti

Foto: Ilustrasi vaksin Covid-19, vaksin virus corona (Shutterstock)
Iklan

MOSKOW, Waspada.co.id – Rusia disebutkan mulai memproduksi batch pertama vaksin untuk virus corona Covid-19 pada Sabtu (15/8). Sebelumnya, Presiden Vladimir Putin mengklaim vaksin ini menjadi yang pertama disetujui di dunia. Meski begitu, para ilmuwan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menanggapinya dengan hati-hati dan tetap memperingatkan tinjauan keamanan ketat terkait vaksin ini.

“Batch pertama dari vaksin virus corona yang dikembangkan oleh lembaga penelitian Gamaleya telah diproduksi,” kata kementerian kesehatan dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Rusia, dilansir dari AFP, Sabtu (15/8).

Putin mengatakan vaksin itu aman dan putrinya telah disuntik vaksin tersebut. Di satu sisi uji klinis vaksin tersebut belum lengkap dan pengujian tahap akhir yang melibatkan lebih dari 2.000 orang baru dimulai minggu ini.

Di sisi lain ilmuwan Barat skeptis bahwa Rusia bergerak terlalu cepat dengan vaksin dan bisa menimbulkan bahaya. Namun Rusia justru mengecam kritikan tersebut.

Vaksin Rusia disebut ‘Sputnik V, diambil dari nama satelit era Soviet yang pertama kali diluncurkan ke luar angkasa pada tahun 1957.

iklan

Vaksin ini dikembangkan oleh lembaga penelitian Gamaleya untuk epidemiologi dan mikrobiologi di Moskow bekerja sama dengan kementerian pertahanan Rusia.

Kepala Gamaleya, Alexander Gintsburg mengatakan kepada kantor berita negara TASS bahwa sukarelawan yang mengambil bagian dalam pengujian tahap akhir akan disuntik dua kali.

Menteri Kesehatan Mikhail Murashko mengatakan minggu ini vaksin tersebut pertama-tama akan tersedia untuk petugas medis dan kemudian akan tersedia untuk semua orang Rusia secara sukarela.

Dengan lebih dari 917.000 infeksi virus corona yang dikonfirmasi, Rusia saat ini berada di urutan keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Brasil, dan India.

Saat ini 92.000 orang di Rusia dirawat di rumah sakit dan 2.900 dalam perawatan intensif, menurut kementerian kesehatan. (cnn/data3)

Iklan