Mentan Cabut Aturan Ganja Sebagai Tanaman Binaan

foto: istimewa
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, mencabut aturan yang dibuat dalam Kepmentan RI Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 yang di dalamnya menyatakan ganja sebagai tanaman obat binaan Dirjen Hortikultura.

“Mentan menyatakan pihaknya akan mengkaji dan berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional RI (BNN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),” ucap Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha, Sabtu (29/8).

“Kepmentan 104/2020 tersebut sementara akan dicabut untuk dikaji kembali dan segera dilakukan revisi dan berkoordinasi dengan stakeholder (pemangku kepentingan) terkait,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Tommy menekankan bahwa Kementan tak mendukung budidaya ganja yang dilarang dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Disebutkan, ganja tergolong narkotika golongan I bersama sabu, kokain, opium, dan heroin serta izin penggunaannya hanya dibolehkan dalam hal-hal tertentu.

Dijelaskan, pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas tanaman obat hanya diperbolehkan bagi tanaman yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan/atau ilmu pengetahuan, dan secara legal oleh UU Narkotika pasal 67 UU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura telah diatur pengaturan soal penyalahgunaan tanaman.

iklan

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan, Bambang Sugiharto, menyatakan bahwa ganja tetap ilegal di Indonesia meski dalam Kepmen 104/2020 dinyatakan sebagai komoditas dalam daftar tanaman obat Ditjen Hortikultura.

“Ganja tetap ilegal baik sebagai tanaman obat ataupun konsumsi bebas, tidak dilegalkan, Tetap dilarang, walau ada ganja untuk obat tapi di Indonesia tidak melegalkan tanaman ganja. Ada keterangannya, tidak dibudidayakan,” kata Bambang. (wol/man/cnnindo/data2)

editor AUSTIN TUMENGKOL

Iklan