Mengenal Lebih Dekat Dua Bocah ‘Kalkulator’ Kakak Beradik Asal Medan

WOL Photo/Ega Ibra
Iklan

Waspada.co.id – Bagi beberapa orang, hal yang berhubungan dengan perhitungan terlebih matematika mungkin tidak menarik. Namun, tidak bagi bocah kakak beradik asal Kota Medan ini. Petra Jheremy Pangaribuan dan adiknya Patricia Sarah Pangaribuan, kakak beradik ini begitu menyukai pelajaran menghitung, bahkan mereka mampu berhitung tanpa menggunakan alat bantu.

Keduannya merupakan buah hari dari pasangan Bripka Frans Suheri Pangaribuan dan Masria Ruth Silitonga. Kini kakak beradik yang masih duduk di bangku sekolah dasar tersebut telah banyak dikenal karena kemahirannya dalam menghitung angka-angka dengan cepat tanpa alat bantu, serta prestasi lainnya yang berhasil mereka raih.

Dua ‘Bocah Kalkulator’ ini mampu melakukan hitung cepat ini setelah dilatih dengan metode Sempoa.

Selain sempoa, Petra dan Patricia aktif mengikuti berbagai kegiatan antara lain sanggar mewarnai, tergabung dengan komunitas berenang, serta pernah diarahkan mengikuti kursus musik juga bahasa. Beragam kegiatan yang dilakukan kakak beradik tersebut tidak lepas dari peran sang ibu yang tidak pernah lelah mengarahkan keduanya untuk terus menggali potensi diri kedua buah hatinya itu.

WOL Photo/Ega Ibra

“Anak saya hanya mereka berdua, mereka berdualah harta saya. Apa yang saya kerjakan, apa yang saya cari semuanya untuk mereka, jadi pasti saya berikan yang terbaik. Ini semua merupakan proses, melalui proses inilah mereka dibentuk untuk menjadi lebih percaya diri dan karakter mereka juga dibentuk dalam proses ini,” kata sang ibu Masria Ruth Silitonga kepada Waspada Online pada Selasa (4/8).

iklan

Ibu dua anak itu menambahkan ia tidak memiliki treatment khusus dalam menggali potensi dalam diri anak-anaknya. Masria menawarkan berbagai kegiatan bagi Petra dan Patricia berdasarkan konfirmasi dari mereka dahulu. Jika anak-anaknya merasa tidak nyaman atau tidak senang dengan kegiatan tersebut, Masria tak akan memaksa mereka untuk melakukan kegiatan tersebut.

“Potensinya saya gali, saya lihat. Saya tidak memaksakan, jadi kalau mereka boring saya akan beri waktu istirahat. Sebagai orang tua kami membebaskan, biar dia yang menentukan dia mau menjadi apa, kami hanya mengarahkan. Karena saya tidak mau ambisi saya yang terjadi, biar mereka yang memilih sendiri,” katanya.

Masria mengakui meski kedua anaknya jago dalam berhitung cepat, namun ternyata kemampuan tersebut tidaklah warisan dari mereka (red, orang tuanya). Bakat yang dimiliki Petra dan Patricia murni berdasarkan ketekunan mereka berlatih sehari-hari. Bahkan, Masria dan suaminya tidak bisa berhitung cepat seperti metode yang digunakan oleh anak-anaknya.

“Jujur saya tidak pandai mengajari mereka metode sempoa. Kami berdua sebagai orang tua sama sekali tidak memiliki bakat seperti itu. Menurut saya itu buah dari tekun berlatih mereka, sehingga mereka menemukan minatnya sendiri,” ucapnya.

Jawab Penolakan dengan Prestasi
Masria mengungkapkan sebelumnya Petra pernah beberapa kali mendapat penolakan. Banyak orang yang memandang sebelah mata anak sulungnya tersebut karena fisik Petra yang tergolong mungil dibanding anak seusianya. Namun Masria tidak mau ambil pusing terkait hal tersebut, ia berkeyakinan semua akan indah pada waktunya.

“Mereka sering meremehkan anak saya, Petra beberapa kali ditolak dalam kagiatan. Tapi saya tidak peduli, selama anak saya menikmati kegiatannya saya akan dukung 100 persen. Kami percaya Tuhan sudah siapkan banyak rencana indah untuk anak-anak saya,” ucapnya dengan penuh harap.

Di balik beragam prestasi yang berhasil dituai Petra dan Patricia, Kepala SD Anugrah Harapan Bangsa, Lina C S.Pd mengatakan Petra dan Patricia juga mengukir prestasi dalam bidang akademik. Di mana Petra meraih juara satu dikelasnya dan Patricia meraih juara dua.

“Saya bangga dengan anak-anak itu. Baik petra juga Patricia mereka bisa menyeimbangkan kegiatan akademik dengan non akademiknya, sehingga bakat yang mereka miliki dapat digalih dan hasil yang mereka capai juga bisa lebih banyak,” jelas Lina.

Karakter yang Utama
Lina menambahkan kekagumannya tidak berhenti pada prestasi anak-anak itu. Sebagai kepala sekolah ia kagum dan bersyukur dengan karakter rendah hati yang dimiliki Petra dan Patricia. Walau menuai banyak prestasi dan telah dikenal banyak orang, keduannya dapat bersikap sewajarnya dan bermain seperti biasa bersama teman-teman sekolahnya.

WOL Photo/Ega Ibra

“Kerendahan hatinya yang membuat saya kagum sekali. Dua anak itu sudah terkenal dengan sebutan bocah kalkulator dan dikenal banyak orang juga. Tapi mereka biasa saja, main bersama teman-temannya layaknya anak seusiannya,” kata Kepala Sekolah SD Anugrah Harapan Bangsa itu.

Sebagai orang tua, Masria mengakui kemampuan memang penting, lebih dari itu menurutnya karakter tetap menjadi yang utama. Masria dan suaminya memilih menanamkan nilai sosial juga nilai agama kepada Petra dan Patricia sejak dini.

“Kami melakukan itu, karena itu merupakan dasar dalam segala hal. Kenapa kita mulai dari keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan Pembina pertama dan utama bagi mereka,” ujar Masria.

Di balik keunikan Petra dan Patricia, Masria megatakan bersyukur untuk kemampuan anaknya. Menurutnya semua yang ada merupakan buah dari usaha dan ketekunan berlatih keduannya. Dan pada dasarnya mereka tetaplah anak-anak yang suka bermain bersama-teman-temannya.

“Sehari-hari juga mereka sama seperti anak biasa, main game, main dengan teman-temannya. Tidak ada perlakukan khusus yang kami lakukan, tetap kami perbolehkan mereka bergaul dengan yang lain. Namun, tetap kita tanamkan nilai-nilai yang memang harus mereka ikuti,” tutupnya. (wol/ondang/tim/data2)

Editor: Agus Utama

Iklan