Membandingkan Diri Dengan Orang Lain Tak Selalu Negatif Lho!

Foto: anakuntad.com
Iklan

Waspada.co.id – Apakah kamu suka membandingkan diri dengan orang lain? Sebagai makhluk sosial hal tersebut menjadi sesuatu yang wajar ketika membutuhkan interaksi dengan orang lain. Entah itu interaksi secara tatap muka, maupun melalui perantara media sosial.

Ketika berinteraksi dengan orang lain, individu cenderung ingin menunjukkan sisi terbaik kepada lawan bicarannya. Mulai dari penampilan fisik, kondisi finansial, sampai kesuksesan yang lo miliki.

Sebenarnya membandingkan diri merupakan hal yang wajar, baik secara langsung maupun tidak. Hal itu karena sebagai makhluk sosial kita selalu bersinggungan dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Namun, membandingkan diri secara berlebihan tentu juga gak baik bagi diri.

Oleh sebab itu, berikut alasan kenapa kita sering membanding-bandingkan diri dengan orang lain lengkap dengan mengubahnya menjadi hal yang positif!

Menurut pencetus teori perbandingan sosial Leon Festinger, sebagai makhluk sosial kita akan selalu membutuhkan penilaian dari lingkungan sosial, atau lebih sering disebut mengais validasi. Mulai dari penilaian seputar penampilan fisik, kesuksesan diri, sampai kemampuan sosial.

iklan

Karena itu kebiasaan membandingkan diri dapat menimbulkan suatu fenomena ‘pansos’ alias panjat sosial. Karena itu semua orang berlomba untuk terlihat lebih baik daripada yang lain. Dengan harapan, orang lain memberikan penilaian positif.

Perlu diingat bahwa membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu berarti negatif. Namun, kita perlu mengenali jenis dari kebiasaan membandingkan diri.

Kebiasaan satu ini terjadi ketika individu membandingkan diri dengan seseorang yang kondisinya lebih buruk. Misalnya, ketika berada dalam situasi sulit, Individu masih banyak orang yang gak seberuntung diri lo saat ini. Dari situ, individu merasa perlu lebih banyak bersyukur dalam kondisi sulit sekalipun. Dengan begitu, kebiasaan membandingkan yang downward dapat membuat individu menjadi pribadi yang pandai bersyukur!

Selain itu, kebiasaan yang ini terjadi ketika individu membandingkan diri dengan orang yang dirasanya lebih baik. Misalnya, membandingkan diri dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang berada. Hal itu mungkin memunculkan perasaan negatif dalam diri individu. Seperti perasaan insecure yang dapat menurunkan kepercayaan diri. Alhasil, kebiasaan membandingkan diri upward dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis diri.

Realitanya, banyak orang yang lebih cenderung memiliki kebiasaan membandingkan diri upward dalam sehari-harinya. Jika berlebihan, hal itu tidak baik bagi kesejahteraan psikologis. Maka dari itu, berikut merupakan cara mengubah kebiasaan membandingkan menjadi sesuatu yang positif.

Mencari Kesamaan dengan Orang Lain
Mengidentifikasi kesamaan diri dengan seseorang yang dibandingkan. Mulai kesamaan dari asal daerah, ketertarikan akan suatu hal, sampai kepribadian yang sama-sama dimiliki. Dengan begitu, individu bisa menyadari bahwa keduanya tidak jauh berbeda. Melalui hal tersebut individu dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Dengan begitu, ini bisa mengubah kebiasaan membandingkan diri menjadi hal yang positif!

Mengapresiasi Keberhasilan Orang Lain
Membiasakan diri untuk memberi apresiasi atas keberhasilan orang lain. Hal ini memang terdengar berlawanan dengan mengurangi kebiasaan membandingkan diri. Namun, itu bisa meningkatkan emosi positif dalam diri.

Bercerita kepada Orang Terdekat
Bercerita kepada orang terdekat ketika merasa sedih akibat membandingkan diri dengan orang lain dapat menjadi solusi. Hal ini berguna untuk melampiaskan emosi diri, dan mendapatkan pandangan yang lebih objektif mengenai kesedihan itu. Dengan begitu, orang terdekat itu dapat membantu untuk merasa lebih baik ketika membandingkan diri dengan orang lain!

Tidak ada yang salah membandingkan diri dengan orang lain dalam sehari-harin. Melalui hal itu, individu dapat termotivasi untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, ada pepatah yang yang berbunyi, ‘diatas langit masih ada langit’, yang berarti selalu ada orang yang lebih baik daripada kita. Oleh sebab itu, cobalah untuk sekali-kali melihat ke bawah, guna membuat kita belajar untuk bersyukur. (wol/ondang/data3)

Sumber: satupersen.id

Iklan