Kecanduan Belanja Online Merupakan Gangguan Mental? Berikut Penjelasannya

Ilustrasi Belanja Online (Foto: Okezone.com/Shutterstock)
Iklan

Waspada.co.id – Masa karantina mandiri selama pandemi telah membuat banyak perubahan pada kehidupan manusia. Penelitian menemukan wabah covid-19 membuat masyarakat menjadi lebih impulsif dalam berbelanja. Hal tersebut dipilih untuk mengindari penyebaran virus corona.

Belanja online dinilai lebih praktis dan cepat dibandingkan dengan metode konvensional. Meski demikian, kebiasaan ini ternyata bisa memengaruhi kondisi mental seseorang loh. Fasilitas internet yang tersedia selama 24 jam sehari membuat pelanggan dapat menikmati kepraktisan dalam berbelanja kapan saja mereka inginkan. Mereka juga tidak perlu repot untuk keluar rumah demi mendapatkan barang yang mereka butuhkan.

Seorang ahli mengatakan kecanduan belanja online bisa membuat situasi semakin parah. Penelitian yang dipimpin oleh seorang psikoterapis Hannover Medical School Jerman, dr. Muller menemukan bahwa orang yang berjuang dengan kecanduan belanja online memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.

Sebagai hasil dari dari temuan dalam penelitian tersebut, para peneliti menjelaskan buying shopping disorder (BSD) terjadi karena hasrat ekstrem untuk membeli barang. Seseorang akan merasakan kepuasan ketika bisa menghabiskan uang yang dia miliki untuk berbelanja. Psikoterapis berpendapat kecanduan belanja secara online tersebut harus diakui sebagai gangguan mental.

Dirangkum dari Psychology Today, berikut karakteristik umum yang terjadi pada pengidap BSD:

iklan

Pembelian impulsif
Pembeli yang kompulsif sering membeli barang-barang berdasarkan dorongan hati. Mereka terus membeli walau barang sebelumnya belum dikeluarkan dari kotak. Sehingga seiring waktu, mereka menimbun banyak barang.

Gembira saat membeli
Pembeli kompulsif mengalami kegembiraan ketika mereka membeli. Pengalaman gembira bukan dari memiliki suatu barang tetapi dari tindakan membelinya. Dan kegembiraan ini bisa menjadi kecanduan.

Berbelanja untuk mengurangi emosi yang tidak menyenangkan
Belanja kompulsif adalah upaya untuk mengisi kekosongan emosional, seperti kesepian , kurangnya kontrol maupun harga diri . Seringkali suasana hati yang negatif, seperti pertengkaran atau frustrasi memicu keinginan untuk berbelanja. Namun nantinya penurunan emosi negatif tersebut bersifat sementara dan digantikan oleh peningkatan kecemasan atau rasa bersalah.

Bersalah dan menyesal
Pembelian diikuti oleh rasa penyesalan. Mereka merasa bersalah dan tidak bertanggung jawab atas pembelian yang mereka anggap sebagai kesenangan. Hasilnya adalah lingkaran setan, yaitu perasaan negatif memicu “perbaikan” lain dengan membeli sesuatu yang lain.

Rasa sakit saat membayar
Membayar dengan uang tunai terasa lebih menyakitkan daripada membayar dengan kartu kredit. Kartu kredit menggoda kita untuk berpikir tentang aspek positif dari pembelian. Sebab kekuatan psikologis utama dari kartu kredit adalah ia mampu memisahkan kesenangan membeli dari rasa sakit membayar. (suara/ondang/data2)

Iklan