Ahli Skeptis Tanggapi Vaksin Corona Buatan Rusia

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Iklan

Waspada.co.id – Pengumuman mencengangkan dari Rusia pada Selasa (11/8) bahwa mereka telah menciptakan vaksin virus corona pertama di dunia memicu kekhawatiran para ahli.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim vaksin yang dikembangkan oleh Gamaleya Institute tersebut aman dan telah diberikan kepada salah satu putrinya.

Para ahli menyatakan tanpa data uji coba yang lengkap dan komprehensif, vaksin dari Rusia tersebut sulit dipecaya. Apalagi Rusia melakukan uji coba vaksin hanya dalam waktu dua bulan sebagaimana dilansir dari Asia One, Rabu (12/8).

Peneliti Obat-obatan dan Warwick Business School, Ayfer Ali, bahkan menyatakan Rusia pada dasarnya hendak melakukan eksperimen dalam populasi yang lebih besar melalui pengumuman tersebut.

Dia mengatakan persetujuan yang sangat cepat seperti itu kemungkinan bakal menimbulkan efek merugikan yang mungkin belum terdeteksi.

iklan

Seorang ahli dari University College London’s Genetics Institute, Francois Balloux, mengatakan keputusan Rusia adalah keputusan yang sembrono.

Dia mengatakan vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji secara tidak tepat sangat tidak etis. Sementara itu, seorang profesor imunologi dari Imperial College London, Danny Altmann, mengatakan pemakaian vaksin yang belum sepenuhnya teruji justru akan semakin memperburuk keadaan. Padahal sejumlah pengembang vaksin di seluruh dunia baru mulai melakukan uji klinis fase ketiga terhadap kandidat vaksin Covid-19 yang melibatkan ribuan sukarelawan.

Pengembang vaksin virus corona seperti Moderna, Pfizer dan AstraZeneca berharap untuk mengetahui apakah vaksin mereka berhasil dan aman pada akhir tahun ini.

Pengembang vaksin tersebut diharapkan mempublikasikan hasil uji coba dan data keamanan mereka lalu menyerahkannya kepada regulator di AS, Eropa, dan tempat lain sebelum lisensinya dapat diberikan.

Para pakar menyatakan persetujuan vaksin itu oleh Kementerian Kesehatan Rusia dilakukan tanpa melewati uji coba fase ketiga. Uji coba semacam itu biasanya dianggap sebagai penilaian sangat penting bagi vaksin sebelum mendapatkan persetujuan regulasi.

Seorang pakar dari Germany’s University Hospital di Tuebingen, Peter Kremsner, yang sedang mengerjakan uji klinis kandidat vaksin dari CureVac mengatakan langkah Rusia itu sembrono.

“Biasanya Anda membutuhkan banyak orang untuk diuji sebelum Anda menyetujui suatu vaksin. Saya pikir itu adalah tindakan sembrono (menyetujui vaksin) jika banyak orang belum pernah diuji,” kata dia.

Para ahli mengatakan kurangnya data yang dipublikasikan tentang vaksin Rusia membuat para ilmuwan, otoritas kesehatan, dan masyarakat tidak tahu apa-apa tentang Sputnik V.

“Tidak mungkin mengetahui apakah vaksin Rusia telah terbukti efektif tanpa menyerahkan makalah ilmiah untuk dianalisis,” kata Keith Neal, seorang spesialis epidemiologi penyakit menular dari Nottingham University. (kcm/data2)

Iklan