Terlibat Korupsi dan Tak Mampu Atasi Covid-19 di Israel, Demo Desak Netanyahu Mundur Meluas ke Yerusalem dan Tel Aviv

Foto: Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (AP Photo)
Iklan

TEL AVIV, Waspada.co.id – Ribuan warga Israel melakukan aksi di sejumlah kota besar, termasuk Yerusalem dan Tel Aviv. Mereka menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mundur dari jabatannya karena dianggap tidak bisa menangani pandemi covid-19 dengan baik di Israel.

Mengutip AFP, sebelumnya massa sudah berdemonstrasi di kediaman Nentanyahu di Yerusalem pada Sabtu (25/7). Massa beraksi sambil mengungkit dakwaan terhadap Netanyahu pada Januari lalu terkait penyuapan, penipuan dan pelanggaran kepercayaan dalam tiga kasus. Ia menyangkal semua tuduhan tersebut.

“Kami muak dengan koruptor,” tulis beberapa poster yang dibawa massa.

“Di mana moral? Di mana nilainya,” tulis poster lainnya.

Selain itu, massa aksi juga mengecam undang-undang yang memberikan pemerintah kekuatan khusus untuk memerangi penyebaran virus hingga akhir 2021. UU tersebut baru disahkan pekan ini.

iklan

Dampak ekonomi dari pandemi yang dirasakan Israel cukup signifikan. Salah satunya angka pengangguran yang melonjak dari 3,4 persen pada Februari menjadi 27 persen pada April, dan turun menjadi 23,5 persen pada Mei.

Kasus infeksi virus corona di Israel sendiri sudah mencapai 60.496 kasus, sekitar 455 kasus di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Pembatasan yang dilakukan untuk menekan kasus ini pun berpengaruh pada kegiatan masyarakat.

Pembatasan tempat hiburan seperti bar, klub malam sampai pusat kebugaran kembali ditetapkan pemerintah ketika kasus baru di Israel mencapai lebih dari 1.000 orang dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah Israel sempat mendapat pujian dalam penanganan corona. Namun belakangan dampak ekonomi mulai meresahkan masyarakat. Pemerintah dinilai belum banyak turun tangan membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Buntutnya sejumlah unjuk rasa digelar dalam beberapa pekan terakhir menuntut penanganan pemerintah. Dalam beberapa kasus, polisi bahkan harus menyemprot demonstran dengan meriam air dan melukai sejumlah massa aksi. (cnn/data3)

Iklan