Saksi: Kasus Pembobolan BRI Termasuk Kategori Ringan

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Kasus kejahatan pembobolan Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui sistem transaksi elektronik Top Up LinkAja yang menyebabkan kerugian senilai Rp1,1 miliar kembali digelar di Ruang Cakra VIII, Pengadilan Negeri Medan, Jumat (7/10).

Persidangan yang berlangsung secara teleconference kali ini, beragendakan keterangan saksi dari Dosen STIE Perbanas Surabaya, Dr. Ronny, sebagai saksi ahli. Ronny mengatakan, persoalan pada kasus BRI merupakan kesengajaan atas kelemahan sistem.

“Ketika seseorang menemukan kelemahan dan mengulang berulang kali, itu bukan merupakan kebetulan, melainkan kesengajaan,” jelas Dosen STIE Perbanas itu.

Lebih lanjut, Ronny menyebutkan kasus ini bukan termasuk penyerangan keamanan, melainkan ilegas akses. Sebab, untuk melakukan ilegal akses tidak dibutuhkan kemampuan teknologi yang tinggi.

“Saya tidak membenarkan kasus ini disebut gangguan. Karena kejadian ini sebenarnya sederhana, dan tidak diperlukan kecanggihan dan kemampuan teknologi,” ucap Ronny.

Advertisement

Setelah itu, majelis Hakim mempertanyakan terkait UU ITE yang dilanggar oleh ketiga terdakwa.

“Menurut Ahli tindak pidana ITE apa yang terbukti dilakukan ketiga terdakwa ini,” tanya Imanuel Tarigan kepada Ahli

Sebagi Ahli, Ronny menyebutkan terdakwa terbukti memenuhi unsur Pasal 30 ayat 1 UU ITE. Seseorang yang melakukan akses dengan sengaja dan dilakukan secara tanpa hak.

“Ketika terdakwa mengetahui ada kelemahan pada sistem, lalu melakukannya secara berulang-ulang itu sangat terbukti unsur sengaja dan tanpa hak,” jelasnya.

Ronny juga mengatakan dalam sistem elektronik baik dalam atau luar negeri tidak ada yang 100 persen dijamin aman. Ia menjelaskan itulah pentingnya pengawasan keamanan secara berkala.

Ronny menambahkan, bahwa kasus pada persidangan ini tergolong pada kejahatan kategori ringan.

“Ini kategori ringan dapat tindak teknologi informasi. Meskipun ini menimbulkan kerugian bagi BRI, tetapi terdakwa bukan merupakan orang yang punya kecanggihan teknologi. Siapapun bisa melakukan jika menghendaki,” ujarnya.

Ronny juga menduga ada keterlibatan orang dalam kasus pembobolan yang terjadi di BRI.

“Dugaan saya ya, gangguan di sini tidak normal, karena transaksinya berjalan, dan itu tidak normal, mungkin ada keterlibatan pihak internal,” ungkapnya.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, Majelis Hakim menunda persidangan hingga pekan mendatang. (wol/ryan/ondang/data3)

Editor: SASTROY BANGUN