Hindari Penularan Jenazah, GTPP Covid-19 Sumut Imbau Keluarga Patuhi Aturan

Foto: Biro Humas dan Keprotokolan Setda Provsu

MEDAN, Waspada.co.id – Protokol kesehatan dalam proses pemakaman jenazah terpapar Covid-19 dilakukan untuk mencegah kontak langsung dengan orang di sekitarnya. Karena itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumatera Utara mengimbau masyarakat, khususnya pihak kerabat/keluarga yang meninggal dunia, mematuhi aturan.

Juru Bicara GTPP Covid-19 Sumut, Whiko Irwan, menyampaikan penularan Covid-19 dari jenazah yang terpapar bisa terjadi karena ada kontak langsung baik tubuh maupun cairan kepada orang di sekitarnya. Meskipun penularan cairan atau droplet sudah tidak terjadi, cairan yang terkontaminasi di dalam tubuh masih dapat menularkan virus.

“Cairan tubuh yang terkontaminasi dapat menularkan Covid-19 kepada orang lain melalui kontak tangan atau wajah kita yang tidak kita sadari. Tangan kita yang sudah terkontaminasi Covid-19, tanpa disadari mengusap air mata atau mengusap hidung kita atau berjabat tangan dengan keluarga/pelayat, demikian seterusnya. Hal ini berpotensi menularkan Covid-19,” ujar Whiko, Selasa (7/7).

Dijelaskan, proses pemakaman dengan protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 antara jenazah penderita dengan orang sekitar serta keluarga yang berduka dan pelayat bisa terhindar dari penularan. Karenanya aturan tersebut diberlakukan untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) maupun pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia.

“Penderita PDP belum dipastikan Covid-19 (positif) sampai keluar hasil pemeriksaan swab Polymerase Chain Reaction (PCR). Namun PDP yang meninggal dunia sebelum adanya hasil swab PCR akan tetap dilakukan protokol pemulasaran jenazah Covid-19,” jelasnya.

Advertisement

Whiko mengingatkan kejadian pelanggaran protokol kesehatan dalam proses pemakaman seperti keluarga memaksa jenazah pasien Covid-19 dikebumikan secara normal, bisa menyebabkan penularan serta melanggar UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dengan ancaman kurungan penjara 1 tahun atau denda Rp100 juta.

“Kita berharap pengambilan paksa jenazah penderita Covid-19 tidak terjadi lagi di Sumatera Utara, karena keselamataan masyarakat lebih diutamakan,” sebutnya. (wol/aa/data3)

editor AUSTIN TUMENGKOL