Bursa Calon Kapolri, IPW: Namanya Akan Mengkristal pada November

Ketua Prisidium Indonesian Police Watch, Neta S Pane (kiri) / (foto: Ist)
Iklan
agregasi

JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) merilis delapan nama jenderal calon Kapolri baru pengganti Jenderal Idham Azis yang akan memasuki masa pensiun sekira enam bulan lagi. Sejumlah nama mulai mencuat sebagai pengganti orang nomor 1 di Korps Bhayangkara itu.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan sejumlah jenderal tersebut saat ini masih cair namun demikian akan mengerucut pada bulan November mendatang. “Kedelapan nama itu sebenarnya posisinya sekarang ini masih sangat cair. Sehingga masih sangat sulit memprediksi siapa yang paling kuat untuk menjadi Kapolri. Nama-nama itu akan mengkristal pada November dan saat itulah siapa calon kuat baru bisa diprediksi,” kata Neta kepada Okezone, Kamis (2/7/2020).

Seperti diketahui, delapan nama yang dirilis IPW terdiri dari lima nama jenderal bintang tiga, dan dan tiga jendral bintang dua. Mereka adalah Kabaintelkam Komjen Rycko Amelza, Kabaharkam Komjen Agus Andrianto, Kepala BNPT Komjen Boy Rafly Amar, Kabareskrim Komjen Listyo Sigit, dan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono.

Kemudian, jenderal bintang dua yakni Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana, Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Lufti, dan Kapolda Jawa Timur Irjen Fadil Imran.

“Kedelapan nama calon Kapolri pengganti Idham Azis yang dimunculkan IPW itu adalah hasil pendataan dari figur-figur yang sering disebut-sebut dalam bursa calon Kapolri di kalangan internal kepolisian. Kedelapan nama itu sering dijagokan kelompok atau alumninya,” ungkap Neta.

iklan

Neta merinci, salah satu nama yang dijagokan untuk menjadi Kapolri yakni Kabaharkam Komjen Agus Andrianto lantaran dekat dengan Presiden Jokowi.

“Alumni Akpol 98 dan dekat dengan keluarga besan (Presiden) Jokowi, Komjen Rycko misalnya dijagokan sebagian Akpol 88 karena Adimakayasa dan pernah menjadi ajudan SBY, Komjen Boy Rafli dijagokan sebagian Akpol 88 karena sangat populer saat menjadi Kadiv Humas Polri dan dianggap sebagai kuda hitam,” ungkapnya

“(Kemudian) Komjen Sigit, Irjen Nana, dan Irjen Lufthi dijagokan karena sangat dekat dengan Jokowi dan kerap disebut sebagai geng Solo, dan Irjen Fadil dijagokan Akpol 91 karena sangat dekat dengan Kapolri Idham Azis. Komjen Gatot dijagokan karena sebagai Wakapolri,” sambungnya.

Menariknya kata Neta, dari kedelapan nama jenderal tersebut tidak ada dari kubu mantan Wakapolri Budi Gunawan lantaran kubu Budi Gunawan yang bintang tiga berada di luar institusi Polri. “Biasanya sangat sulit bagi jenderal yang sudah bertugas di luar Polri untuk masuk ke internal Polri, apalagi untuk masuk bursa calon kapolri,” jelasnya.

Neta juga menanggapi soal tanggapan Kapolri Idham Azis yang menyinggung bursa Kapolri baru. Sebab menurutnya pengganti orang nomor satu di Polri kini sudah mulai memanas.

“IPW melihat wajar saja jika Kapolri Idham Azis sempat melontarkan calon Kapolri baru di HUT polri. Hal ini karena Idham melihat bursa calon di internal kepolisian sudah mulai panas sehingga dia harus menyikapinya dan Idham sendiri sudah prepare terhadap dinamika ini meski masa jabatannya masih enam bulan lagi,” tandasnya.

Iklan