Anak Ditembak Polisi, Roslila Ngadu ke Propam Poldasu

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Roslila (50) warga Lingkungan III Sejahtera, Kelurahan Dendang, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, tidak terima anaknya Satria Mandala alias Rambo ditembak personel Sat Reskrim Polres Langkat pada Senin (3/2) malam.

Merasa anaknya diperlakukan tidak adil dan polisi bertindak suka-suka, Roslila menuntut keadilan, dan melaporkan Kasat Reskrim Polres Langkat AKP Teuku Fathir Mustafa dan Iptu Bram Candara, bersama anggotanya ke Bid Poropam Polda Sumatera Utara (Poldasu).

Didampingi Penasehat Hukum Romi Tampubolan SH dan Putra Simatupang SH, mereka meminta Polda Sumut untuk mengusut dan menghukum para pelaku penganiayan dan penembakan terhadap Satria Mandala alias Rambo yang belum tentu bersalah karena dituduh 3 kali melakukan pencurian dengan kekerasan (curas).

“Saya tak terima anak saya dianiaya hingga seluruh tubuhnya babak belur dan ditembak pada bagian kaki kanannya,” ungkap Roslila, Kamis (9/7).

Ia menerangkan, kalau anaknya Mandala alias Rambo sebelum ditembak, sempat dipukuli oleh beberapa oknum polisi menggunakan besi dan kayu.

Advertisement

“Saat anakku dijemput, Sabtu (1/2) malam dalam keadaan sehat. Gitu sampai di Mapolres Langkat dipaksa mengakui perbuatan yang nggak ada dilakukannya,” terangnya.

Lebih lanjut, Ros menuturkan pada Minggu (2/2) sore anaknya mengalami kekerasan fisik (ditembak) oknum polisi dan dipaksa untuk mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya.

Mirisnya lagi, kalau oknum polisi itu mengancam teman anaknya bernama Billi, dan diarahkan oleh oknum polisi yang membawanya untuk tidak memberitahukan peristiwa yang mereka alami pada siapapun.

“Kalau keluarga si Rambo dan siapapun bertanya, bilang aja kalau Rambo ditembak karena melawan petugas,” beber Ros menirukan ucapan Billi oknum polisi yang tak dikenalnya.

Selain itu, Ros menuturkan perkara yang sedang dijalani anaknya terkesan sangat dipaksakan. Bahkan, Ketua Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat (HIPAKAD) Langkat ini berharap agar hukum bisa ditegakkan dengan seadil-adilnya.

“Kalau oknum polisi nangkap penjahat dalam keadaan sehat, itu sebuah prestasi. Tapi, kalau menangkap orang tak bersalah dalam keadaan sehat lalu dianiaya penuh luka dan ditembak pula itu perlu dievaluasi. Apalagi yang ditangkap ini belum tentu bersalah,” tegasnya.

“Apa memang seperti itu proses penyidikan. Saya nggak terima, anak saya sudah cacat. Saya minta agar semua oknum yang terlibat agar diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,” pungkasnya.(wol/lvz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN