Ahli Dari Balai POM Medan Sebut Bidan Tidak Dapat Beri Obat Kepada Pasien

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Sidang lanjutan kasus dugaan Saksi Ahli Hendria Ningsih dari Balai Besar POM Medan, menegaskan bahwa obat Diazepam tablet 2 mg tidak dapat dijual secara bebas.

Tidak hanya itu, saksi ahli ini juga mengatakan, seorang bidan tidak dapat memberikan obat kepada pasien.

“Tidak bisa diberikan oleh bidan. Mereka hanya bisa memberikan vitamin tapi bukan obat,” ungkapnya di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Imanuel Tarigan, di Ruang Cakra VIII, Selasa (7/7).

Dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Dewi Delfina Sidauruk yang diketahui seorang bidan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maria Tarigan, hari ini menghadirkan tiga orang saksi dari Balai Besar POM Medan yakni, Sahat Marpaung, Diva Ananda dan Hendria Ningsih.

Kembali di persidangan, dalam keterangannya, saksi ahli juga menjelaskan alasan obat Diazepam tidak dijual secara bebas. Katanya, memiliki efek ketergantungan.

Advertisement

“Tidak dijual bebas, hanya di apotik dijual dan berdasarkan resep dokter,” ucapnya lagi.

Di lain sisi, penyidik dari Balai Pom Medan, Sahat Marpaung sependapat dengan ahli. Sahat mengatakan, obat Diazepam yang berisi 1000 tidak dapat di edarkan lagi.

“Jadi ini sebenarnya tidak boleh lagi di edarkan, yang isi 1000, yang boleh diedarkan hanya isi 100 pak,” ucapnya kepada majelis.

Sahat juga mengatakan bahwa, obat yang dijual terdakwa bukan yang asli, melainkan barang palsu.

“Namun, barangnya isi palsu pak, soalnya sudah kita uji, dan hasilnya negatif, karena tidak ada efek,” ucapnya.

Mendengar penjelasan saksi, majelispun langsung bertanya, pelanggaran yang diperbuat oleh terdakwa. Saksipun menjelaskan bahwa terdakwa tidak memiliki izin edar.

Demikian setelah mendengar keterangan saksi, sidang dilanjutkan langsung dengan keterangan terdakwa, dimana terdakwa mengaku bahwa, mendapatkan obat tersebut dari Pasar Pramuka Jakarta dan dibeli dengan harga Rp175 ribu/1000 butir.

Anehnya, terdakwa yang diketahui seorang bidan ini tidak mengetahui bahwa bidan tidak dapat memberi obat jenis Diazepam kepada pasien. Tetapi ia mengetahui jika obat tersebut tidak dijual secara bebas.

Setelah itu keterangan terdakwa selesai, Majelis Hakim menunda persidangan hingga pekan mendatang.

Mengutip dakwaan bahwa terdakwa diancam Pidana dalam Pasal 197 jo Pasal 106 (1) UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.(wol/ryan/data2)

Editor: SASTROY BANGUN