Tiga Eks Presiden Amerika Serikat Kompak Kritik Trump Soal Penanganan Demo George Floyd

Foto: Mantan Presiden AS Jimmy Carter (kiri), Barack Obama (Tengah), George Bush (Kanan) (Getty Images)
Iklan

WASHINGTON, Waspada.co.id – Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter meminta pihak berwenang mengakhiri tindakan diskriminatif dan perilaku tidak adil sistematik lain. Carter mengatakan aksi diskriminatif yang berbuntut kematian George Floyd bisa merusak demokrasi.

“Orang-orang yang memiliki kekuasaan, hak istimewa, dan hati nurani harusnya secara bersama-sama mengatakan ‘tidak ada lagi’ aksi diskriminatif rasisme kepada polisi dan sistem peradilan, kesenjangan ekonomi antara kulit putih dan kulit hitam, serta tindakan pemerintah yang bisa merusak proses demokrasi,” papar Carter dalam sebuah pernyataan tertulis yang dirilis oleh Carter Center seperti mengutip AFP.

Pernyataan mantan presiden berusia 95 tahun itu merespons gelombang demonstrasi yang disertai aksi kekerasan di seluruh Amerika dalam delapan hari terakhir.

Carter merasa kecewa melihat adanya diskriminasi rasial yang meluas dan tindakan kekerasan aparat kepolisian terhadap etnis minoritas.

“Kita semua harus fokus pada aksi amoralitas diskriminasi rasial. Tetapi tindak kekerasan, baik secara spontan atau karena hasutan secara sadar, bukanlah solusinya,” katanya.

iklan

Penerima Nobel Perdamaian pada 2002 itu juga mengkritik cara pemerintah dalam menangani aksi para demonstran.

“Kami membutuhkan pemerintahan sebaik rakyatnya, dan kami lebih baik dari ini,” tulis presiden AS yang menjabat pada 1977 hingga 1981 ini.

Sementara, Mantan Presiden George W. Bush mengatakan gelombang protes anti rasisme yang dipicu kematian George Floyd menunjukkan kegagalan tragis bagi Amerika Serikat.

Dalam sebuah pernyataan, Bush mengatakan jika gelombang protes yang memicu kerusuhan dan aksi penjarahan selama sepekan terakhir sebagai sebuah kegagalan.

“Itu (aksi demo) merupakan sebuah kegagalan saat bayak orang keturunan Afrika-Amerika, terutama laki-laki muda dilecehkan dan diancam di negara mereka sendiri,” tulis Bush dalam pernyataannya seperti mengutip AFP.

Bush juga menyampaikan duka cita atas kematian Floyd yang pada 25 Mei lalu.

“Tragedi ini (rasisme) – dalam serangkaian tragedi serupa – telah menimbulkan pertanyaan yang sejak lama terpendam: Bagaimana kita mengakhiri rasisme sistemik di masyarakat kita?,” tulis mantan presiden AS yang menjabat dari 2001-2009 tersebut.

“Sudah saatnya bagi Amerika untuk memeriksa kembali kegagalan tragis atas isu rasisme ini.”

Dalam kritiknya itu Bush tidak secara gamblang menyalahkan Presiden Donald Trump yang sama-sama politisi dari Partai Republik.

Sedangkan, mantan presiden Barack Obama, menegaskan Negeri Paman Sam terbentuk dari sebuah protes kepada pengkritik dan orang yang khawatir terkait demonstrasi antirasisme dalam sembilan hari terakhir.

Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.

Obama menyatakan dukungannya kepada para pemrotes untuk berunjuk rasa memperjuangkan hak mereka secara damai.

“Dan bagi mereka yang telah berkomentar tentang protes ini, ingatlah, negara ini didirikan berdasarkan protes. Ini disebut revolusi Amerika,” kata Obama dalam sebuah video berisikan tanggapannya terkait demonstrasi pada Rabu (4/6).

“Dan setiap langkah kemajuan di negara ini, setiap kebebasan, setiap ekspresi dari cita-cita kita yang terdalam, telah dimenangkan melalui upaya yang membuat status quo tidak nyaman. Kita semua harus berterima kasih kepada orang-orang yang bersedia dengan cara damai dan disiplin berada di luar sana membuat perubahan,” paparnya menambahkan.

Kepada para demonstran, Obama menyerukan agar mereka “tetap berjalan dan tetap lah berharap.”

Dalam kesempatan itu, Obama menyerukan seluruh wali kota dan gubernur negara bagian untuk meninjau kembali kebijakan pengerahan aparat dalam menangani demonstrasi.

Ia bahkan marah dengan tindakan kepolisian yang menggunakan gas air mata dan cairan kimia lainnya dalam menghadapi pengunjuk rasa. (cnn/data3)

Iklan