Sebut “Hari Besar” untuk George Floyd, Trump Picu Kontroversi

Presiden AS, Donald Trump. (AP/Alex Brandon)

WASHINGTON DC, Waspada.co.id – Presiden Amerika Serikat ( AS) Donald Trump memicu kontroversi dengan mengatakan “hari besar” saat prosesi pemakaman George Floyd.

“Kita semua melihat apa yang terjadi minggu lalu. Kita tidak bisa membiarkannya,” ucap Trump tentang Floyd yang tewas usai lehernya ditindih polisi selama hampir 9 menit.

“Mudah-mudahan, George melihat ke bawah sekarang dan berkata, ‘Ini adalah hal besar yang terjadi di negara kita’,” ucapnya dikutip dari AFP Sabtu (6/6).

Pernyataan itu diucapkan Trump saat briefing di Gedung Putih yang disiarkan televisi, 11 hari setelah kematian Floyd. Kontroversi lalu menyeruak, saat Trump menyebut ini adalah hari besar bagi Floyd.

“Ini luar biasa, hari besar dalam hal kesetaraan,” tambah Trump yang dituduh banyak orang gagal mengatasi rasialisme, kekerasan polisi, dan ketidaksetaraan yang diporotes para demonstran.

Advertisement

Kemudian sisa pidatonya ditujukan untuk menyambut kabar baik perekonomian AS, yang disebutnya sedang “meroket”.

Komentar “hari besar” dari Trump dianggap banyak orang terlalu mengaitkan kematian Floyd dengan berita perekonomian hari itu. Gedung Putih menyebut penafsiran seperti itu “salah”.

“Sangat jelas presiden berbicara tentang perjuangan untuk keadilan yang sama, dan perlakuan yang sama di bawah hukum ketika dia berkomentar,” tulis konsultan komunikasi senior Gedung Putih Ben Williamson di Twitter.

AFP mewartakan, Trump mengucapkan ini sebelum berbicara tentang Floyd.

“Keadilan yang sama di bawah hukum harus berarti setiap orang Amerika menerima perlakuan yang sama dalam setiap pertemuan dengan penegak hukum tanpa memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, atau kepercayaan,” katanya.

Keputusan Trump untuk mengucapkan kata-kata tentang Floyd itu mendapat kritikan tajam. Joe Biden calon rivalnya dari Partai Demokrat di pemilu AS 2020 November mendatang, mengecam ucapan Trump “tercela”.

“Kata-kata terakhir George Floyd ‘Aku tidak bisa bernapas’ telah bergema di seluruh negara kita dan di seluruh dunia,” twit Biden.

“Dengan presiden mencoba memasukkan kata-kata lain sejujurnya tindakan tercela.” Sejak kematian Floyd pada 25 Mei, demonstrasi besar-besaran terjadi di Negeri “Paman Sam”, termasuk kerusuhan dan penjarahan di banyak kota.

Trump yang mencitrakan dirinya sebagai presiden pemegang teguh “hukum dan perintah”, mengancam akan mengirim militer AS ke jalanan untuk meredakan demonstrasi yang sedang berlangsung.

AFP melanjutkan, Trump selalu percaya kebijakan terbaik untuk mengurangi ketidaksetaraan adalah mendorong pertumbuhan ekonomi di kalangan warga Afrika-Amerika.

“Apa yang Anda lihat sekarang… adalah hal terbesar yang dapat terjadi berkaitan dengan ras, untuk masyarakat Afrika-Amerika, untuk Asia-Amerika, untuk Amerika-Hispanik, untuk wanita, dan semuanya,” urai Trump.

“Negara kita sangat kuat, dan itulah rencanaku. Kita akan memiliki ekonomi terkuat di dunia.”

Selama tiga tahun terakhir Trump berulang kali mengklaim dia “berkontribusi lebih banyak untuk warga kulit hitam dibandingkan presiden mana pun sejak Abraham Lincoln”, yang menghapus perbudakan pada 1860-an. (kcm/data2)