Moeldoko Sebut Penanganan Corona Tak Sesuai Harapan

Kepala Staf Presiden Moeldoko. (Foto : Okezone.com/Fahreza Rizky)

JAKARTA, Waspada.co.id – Kepala Staf Presiden Moeldoko menyatakan ungkapan kemarahan Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu dipicu penanganan virus corona (Covid-19) di lapangan yang tak sesuai harapan.

Jokowi diketahui sempat marah pada menteri dan jajarannya saat memimpin sidang kabinet 18 Juni lalu. Video kemarahan Jokowi itu baru diunggah pada Minggu (26/6) kemarin.

“Penanganan tidak cukup biasa-biasa, pemimpin lembaga harus ambil langkah efektif, efisien, tepat sasaran. Presiden beberapa kali katakan ini dan masih ada beberapa di lapangan yang tidak sesuai harapan beliau, maka penekanan saat ini lebih keras dari sebelumnya,” ujar Moeldoko di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (29/6).

Moeldoko menjelaskan Jokowi ingin agar para menteri memiliki semangat bersama dalam mengatasi Covid-19. Pasalnya, masih ada menteri yang menganggap situasi saat ini normal.

Untuk itu, kata dia, Jokowi telah beberapa kali menyampaikan peringatan agar para menteri dapat menangani pandemi Covid-19 yang telah menjadi krisis dengan cara luar biasa.

Advertisement

“Ini peringatan beberapa kali yang disampaikan presiden. Peringatannya adalah ini situasi krisis yang perlu ditangani extraordinary,” katanya.

Moeldoko menuturkan, Jokowi ingin agar persoalan kesehatan maupun sosial ekonomi bagi yang terdampak Covid-19 dapat terselesaikan dengan baik. Meski pada kenyataannya sektor kesehatan menjadi persoalan yang masih disoroti Jokowi.

“Itu sudah disinggung soal kesehatan. Dana cukup besar baru terserap 1,53 persen. Memang kita dalami ada beberapa persoalan yang perlu dikomunikasikan lebih cepat lagi,” ucap Moeldoko.

Sejumlah persoalan itu di antaranya terkait pendataan insentif bagi tenaga medis hingga regulasi yang terlalu lama. Sebab, jika tak segera diselesaikan persoalan itu akan menjadi penghambat kinerja menteri itu sendiri.

“Hal-hal seperti ini pasti, pasti, akan jadi penghambat menteri bekerja. Tapi sekali lagi persoalannya bagaimana cara-cara baru untuk menyiasati yang perlu dilakukan,” tuturnya. (cnnindonesia/ags/data3)