Edy Serap Aspirasi Pakar untuk Penerapan New Normal

foto: Biro Humas dan Keprotokolan Setda Provsu

MEDAN, Waspada.co.id – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) tidak ingin tergesa-gesa dalam penerapan New Normal. Gubernur Sumut (Gubsu), Edy Rahmayadi, pun menyerap aspirasi dan saran pakar agar penerapan New Normal efektif menekan penyebaran Covid-19.

Hal itu disampaikan Gubsu pada Seminar Online Sumut Menghadapi New Normal yang diikuti ratusan peserta di Pendopo Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman Medan, Selasa (2/6).

“Setelah bertemu dengan para pakar, baru kita diskusikan dengan bupati/wali kota se-Sumut. Lalu nanti kita pilah dan pilih mana yang bisa kita terapkan, sebab ada 33 kabupaten/kota di Sumut ini yang berbeda-beda kondisinya,” ujar Gubsu.

Namun, kata Edy, langkah-langkah yang akan diambil harus sesuai Keppres Nomor 12 Tahun 2020 tentang penetapan bencana non alam penyebaran Covid-19 sebagai bencana nasional. Gubsu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam bertindak. Disebutkan, masa transisi adalah waktu mengkaji, menyusun kebijakan, sosialisasi, dan edukasi untuk menyambut New Normal.

Di bidang pendidikan, dilakukan dengan rapid test untuk seluruh guru dan pegawai sekolah, sterilisasi dengan desinfektan secara periodik terhadap ruang kelas, ruang guru, ruang fungsional termasuk kantin, pengadaan masker, penyediaan cek suhu tubuh, sarana cuci tangan, hand sanitizer, pengaturan tempat duduk, pengaturan jam belajar serta dan pembatasan jumlah siswa.

Advertisement

Bila tidak memenuhi syarat-syarat dimaksud, maka Gubsu menegaskan pihaknya akan menunda aktivitas New Normal di bidang pendidikan. Artinya, siswa belum diizinkan untuk belajar tatap muka di sekolah.

Webinar atau seminar online dibuka oleh Plt Kadis Kominfo Irman Oemar dilanjutkan paparan narasumber masing-masing Prof Dr Tamsil Syaifuddin SpP (K) mewakili aspek kesehatan, Prof Wan Syaifuddin MA PhD dari sisi budaya, dan Kepala BI Perwakilan Sumut Wiwiek Sisto Widayat dari aspek ekonomi.

“Mari sama-sama kita pikirkan ini, kita bahas dan semoga seminar ini menghasilkan hal-hal yang bermanfaat. Kesehatan, ekonomi, dan sosial budaya perlu diperhatikan untuk menerapkan New Normal,” ujar Gubsu lagi.

Tamsil Syaifuddin menjelaskan aspek kesehatan Covid-19 ini dikategorikan menjadi dua sisi. Pertama, Covid-19 dipandang sebagai penyakit berarti langkah menyiapkan rumah sakit, ruang isolasi dan tenaga medis sudah tepat. Kedua, dipandang sebagai wabah, maka harus fokus kepada Orang Tanpa Gejala (OTG) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“Saat ini, masalah yang kita hadapi adalah masyarakat very low social culture (sosial budaya rendah). Di Jepang, orang menggunakan masker agar tidak terkena orang lain, itu high sosial culture, tapi kita malah tidak peduli,” tambahnya.

Tamsil pun menuturkan bahwa telah melakukan penelitian di kerumunan pasar tradisional yang sampelnya diambil di Pasar Halat dan Pasar Petisah. Hasilnya, 81 % masyarakat menjawab tidak tahu tentang protokol kesehatan.

Wan Syaifuddin mengatakan bahwa perlu adanya peran tokoh masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wan juga menambahkan bahwa New Normal akan lebih efektif bila diterapkan di zona hijau karena pengawasannya lebih mudah. (wol/aa/data2)

editor AUSTIN TUMENGKOL