Bersiap Dengan New Normal, LIPI Kembangkan Lapisan tembaga untuk Masker

Ilustrasi (Ist)

Waspada.co.id – Meski belum menunjukkan penurunan kasus positif Covid-19, masyarakat Indonesia musti bersiap dengan new normal. Masker kini jadi perlengkapan wajib yang dikenakan sehari-hari. Masyarakat mengenakan masker kain (non medis) sedangkan tenaga kesehatan mengenakan masker medis.

Keduanya sama-sama bisa memberikan proteksi terhadap virus. Namun tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melihat proteksi dengan mengandalkan pori-pori masker tidak cukup. Berangkat dari hal ini, tim pun mengembangkan masker dengan lapisan tembaga.

Deni Shidqi Khaerudini, peneliti di Pusat Penelitian Fisika LIPI, memaparkan virus mampu bertahan di berbagai permukaan. Namun menurut riset ‘Copper Tolerance and Virulence in Bacteria’, tembaga (Cu) telah dikenal sebagai antimicrobial agent sejak zaman Mesir dan Yunani kuno semisal untuk perawatan luka dan sterilisasi air. Hingga 2011, lanjut Deni, setidaknya ada 300 jenis paduan tembaga sebagai antimicrobial agent.

“Mekanisme secara umum berkaitan dengan mudah terlepasnya ion-ion Cu yang mengakibatkan kerusakan pada dinding sel dan degradasi DNA sehingga mikroba tidak mampu bereproduksi. Sel itu mereplikasi diri sendiri, kalau tidak ya mati,” jelas Deni dalam webinar LIPI, Kamis (4/6).

Selanjutnya, pori-pori masker selamanya tidak bisa diandalkan untuk mencegah virus masuk. SARS-Cov-2 alias virus corona memiliki diameter 0,065-0,125 mikron. Pada 2013, terbit studi uji efektivitas penyaringan mikroorganisme B Atrophaeus. Diameter mikroorganisme ini 0,9-1,25 mikron atau 10 kali lebih besar dari diameter virus corona.

Advertisement

Hasilnya, masker medis mampu menyaring 96,35 persen mikroorganisme. Sedangkan masker kain sebesar 69,42 persen dan masker kain dua lapis sebesar 70,99 persen.

“Ini untuk mikroorganisme yang ukurannya 10 kali lipat virus, kesimpulannya ada kemungkinan 30 persen virus bisa lolos saat pakai masker kain biasa. Masker medis, kemampuannya memang tinggi, tapi kalau virus lebih kecil, kemampuan filtrasi turun. Masker medis pun ada kemungkinan SARS-Cov-2 tembus. Perlu lapisan yang bisa mendegradasi atau memutus virus,” jelasnya.

Deni beserta timnya pun mencoba mengembangkan lapisan tembaga pada masker kain. Dia berkata masker kain memiliki diameter pori sekitar 100 mikron. Buat virus corona, ini layaknya lapangan bola sehingga lapisan tembaga disematkan untuk memperkecil pori dan memberikan mekanisme ‘pembunuhan’ virus.

Deni mengasumsikan virus corona akan terfilter dan kontak dengan partikel tembaga. Ion-ion tembaga pun terbentuk dan mempenetrasi dinding sel. Ion-ion ini kemudian menstimulasi pembentukan radikal bebas yang akan mendegradasi RNA virus. Virus pun rusak dan mati.

Sejauh ini masker lapis tembaga kembangan tim peneliti sudah melalui berbagai tes seperti dicuci (dikucek), dipanaskan hingga suhu 100 derajat Celcius, drop test (uji ditetes cairan), dan uji tiup untuk membuktikan pori tidak tembus tetapi masih bisa untuk bernapas.

“Potongan kain dicuci dan dipanaskan, hasilnya pH air tidak berubah, artinya tembaga tidak rontok. Namun untuk kemampuan mereduksi virus, ini masih perlu kami konfirmasi lagi ke pihak laboratorium BSL3 (biosafety level 3),” imbuhnya.

Sampai saat ini, masker tersebut masih dalam tahap pengembangan. (cnnindonesia.com/data3)