Sarat Kritik ‘The Last Dance’, Dennis Rodman Bela Air Jordan

Foto: washingtonpost
Iklan

CHICAGO, Waspada.co.id – Penggila bola basket baru saja disuguhi film dokumenter tentang kejayaan Chicago Bulls merebut enam cincin juara NBA di periode 1991-1998. Selain sarat pujian, banyak juga pihak memberi kritik atas film tersebut.

Horace Grant, mantan forward Bulls yang turut berperan meraih tiga gelar juara pada 1991, 1992, dan 1993, dilepas manajemen klub pada tahun 1994 untuk gabung Orlando Magic. Tak lama setelah The Last Dance dirilis, Grant pun mengeluarkan kritik pedas.

“Saya akui sebagai dokumenter, filmnya cukup menghibur. Tapi Anda perlu tahu bahwa sebagian pemain Bulls menganggap 90 persen dari tampilannya merupakan omong kosong dan jauh dari fakta,” kata Grant kepada ESPN 1000’s Kap and Co podcast baru-baru ini.

“Filmnya rekayasa, karena banyak hal yang dikatakan Jordan kepada rekan setimnya yang cukup kasar dan mereka pun berbalik darinya. Ternyata semua bagian itu diedit alias dihapus dari film tersebut,” sebut Grant lagi.

Grant, tidak pernah menjadi rekan setim Dennis Rodman, menyebutkan The Last Dance terlalu membesar-besarkan Jordan jauh dari realita. Tak senang dengan kritikan Grant, Rodman pun balik membalas mantan pemain Bulls era lama tersebut.

iklan

“Bila ada yang mengkritik Jordan, berarti Anda bukan pemain yang memiliki mentalitas sepertinya. Saya sendiri bangga melihat film tersebut dan menjadi bagian sejarah,” balas Rodman yang dikenal sebagai salah satu pemain bertahan terbaik dalam sejarah NBA.

Rodman sendiri menjadi bagian tim Bulls yang meraih sukses tiga kali juara NBA secara beruntun pada 1996, 1997, dan 1998 alias three-peat kedua. Di mata Rodman yang pernah membela Detroit Pistons, San Antonio Spurs, Dallas Mavericks, dan LA Lakers itu, Bulls merupakan tim yang bersejarah dan sulit ditandingi.

“Di film ini, Anda melihat sisi lain dari Michael Jordan, Scottie Pippen, dan coach Phil Jackson. Terlepas pernah bertikai dengan Jordan dan Pippen semasa di Pistons, mereka dan coach Jackson amat memahami saya,” akunya.

Kala itu di tengah final NBA 1998, Bulls melawan Utah Jazz dan tengah berjuang memastikan cincin juara keenam sebelum tim dibubarkan untuk regenerasi. Ternyata, Rodman meminta izin untuk rehat sejenak agar bisa fresh kembali saat tanding.

“Saya ingat meminta izin pergi ke Las Vegas untuk weekend, agar bisa fokus dan refreshing. Awalnya, Jordan bilang bahwa dirinya lelah dan dialah yang sepatutnya mendapat istirahat. Lalu coach Phil memberi izin dan saya pergi. Hanya saja, saya pergi selama empat hari,” cerita Rodman sembari tertawa.

Terlepas itu, Rodman membela Jordan dan pelatih yang berani ambil risiko memberinya izin. Diakui, mereka benar-benar paham bahwa dirinya seorang juara dan profesional yang akan berjuang mati-matian di lapangan.

Rodman juga bercerita sosok Jordan tidak seburuk yang dikatakan orang. Meski mengakui sang legenda kerap memarahi rekannya sendiri baik saat latihan maupun pertandingan, Rodman menganggap hal itu wajar.

“Anda bermain dengan Michael ‘Air’ Jordan. Dia seorang legenda, bintang, dan pemain terhebat yang pernah ada. Bila menjadi rekan setimnya, Anda harus berjuang dan memperlihatkan determinasi dan keinginan untuk menang karena Jordan selalu bersikap demikian,” ujar Rodman lagi.

“Harus Anda akui bahwa Jordan sangat kompetitif di setiap saat dan sebagai rekan setimnya juga harus paham itu. Determinasi dan profesionalitas Jordan memaksa Anda untuk ingin menirunya. Lagipula, hei semua ingin menjadi Mike…,” sebut Rodman mengakhiri.(wol/aa/dailymail/data3)

editor: AUSTIN TUMENGKOL

Iklan