Poldasu Periksa Pengusaha Diduga Gelapkan Uang Rp3,6 Miliar

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Penyidik Subdit III/Jatanras Direktorat (Dit) Reskrimum Polda Sumut memeriksa pengusaha PT M berinisial TA diduga melakukan penipuan penggelapan senilai Rp3,6 miliar yang dilaporkan Selamat Ang (50) warga Tanjungbalai.

Bahkan, dalam waktu dekat penyidik akan melakukan gelar perkara untuk menentukan proses selanjutnya.

“Terlapor sudah kita periksa. Selanjutnya akan dilakukan gelar perkara,” kata Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Selasa (12/5).

Untuk saat ini, Nainggolan menuturkan kasus dugaan penipuan dan penggelapan itu masih dalam proses penyelidikan. Sejumlah saksi telah diundang dan dimintai keterangan.

Sementara, penyidik Subdit III/Jatanras Dit Reskrimum Polda Sumut mengakui telah melakukan cek tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa terlapor, belum lama ini.

Advertisement

“Kita sudah cek TKP dan periksa terlapornya, minggu kemarin. Sekarang sedang persiapan gelar perkara,” terangnya.

Menanggapi kinerja Subdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut, kuasa hukum korban Selamat Ang, Zulham Rany SH, sangat menyambut baik termasuk pemeriksaan terhadap terlapor TA.

“Kita sangat mengapresiasi kinerja Poldasu. Cek TKP yang dilakukan Poldasu dan pemeriksaan terlapor membuktikan keseriusan dalam menangani kasus yang dialami klien saya,” ujarnya.

Zulham berharap, gelar perkara yang nantinya dilakukan penyidik dapat segera menetapkan tersangka hingga kasusnya bisa segera dilimpahkan ke pengadilan.

“Harapan kita, gelar perkara bisa menetapkan tersangka untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi klien saya,” harapnya.

Diketahui, kasus ini diselidiki dari laporan korban, Selamat Ang dengan Laporan Polisi (LP) bernomor STTLP/433/III/2020/SUMUT/SPKT “I” ditandatangani Kepala SPKT Polda Sumut, AKBP B Sembiring pada Selasa (3/3) sore lalu. Korban merasa dirugikan Rp3,6 miliar. Terlapor disebut telah melakukan pemutusan hubungan kerjasama secara sepihak.

“Dugaan penipuan dan penggelapan tersebut terjadi karena TA selaku pengusaha, mengalihkan pengerjaan kepada pihak lain meski kontrak pengerjaan proyek tersebut belum berakhir,” pungkas Zulham. (wol/lvz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN