New Normal Tak Hanya Soal Fisik, Tapi Juga Mental

Ilustrasi (Foto: MI/Tet Dwi Pramadia)
agregasi

Waspada.co.id – Tatanan kehidupan baru atau new normal jadi isu yang menggema belakangan ini. Semua orang membicarakannya, karena hal ini memang harus dilewati untuk mencegah corona.

Bicara mengenai new normal, maka Anda akan dihadapkan pada perubahan perilaku. Mungkin yang tadinya Anda tak begitu peduli dengan kebersihan, hidup di new normal sikap tersebut tak bisa diteruskan. Pun dengan kebiasaan berkerumun.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Indah Fitriani, SpPD, menyarankan agar semua orang benar-benar menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebab, dengan cara inilah Anda tetap bisa aman dari paparan virus corona.

“Jaga jarak aman, menghindari kerumunan, rutin cuci tangan dengan sabun, pakai masker, itu semua akan jadi kebiasaan baru yang tak bisa dihindari saat menjalani New Normal,” terangnya, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, bukan hanya raga yang harus siap menyambut New Normal, tetapi jiwa juga. Kesiapan psikis menyambut kehidupan new normal, harus sesemangat Anda menjaga luar tubuh dari paparan virus corona.
Jika bicara mengenai psikis, maka akan dihadapkan pada risiko hadirnya New Normal itu sendiri. Seperti yang diterangkan Psikolog Klinis Meity Arianty, setiap keputusan akan ada risikonya, apalagi keputusan tersebut menciptakan perubahan perilaku.

Advertisement

“Risiko selalu ada, ya, namanya juga perubahan. Nah, kebanyakan masyarakat kita kurang suka dan selalu merasa sulit setiap kali berhadapan dengan situasi baru, mungkin karena kita lama dijajah sehingga saat berada di zona nyaman kita suka memberontak dulu awalnya,” paparnya pada Okezone melalui pesan singkat, Kamis (28/5/2020).

Sikap demikian juga dipercayai Mei, sapaan akrabnya, yang membuat masyarakat lebih banyak protes ketimbang mendengar, mengamati, melihat, menjalani, ataupun merasakan. “Tapi, berjalannya waktu, masyarakat kita akan menerimanya,” sambungnya.

Menyikapi datangnya New Normal berarti masyarakat mesti siap dengan perubahan kehidupan yang diterapkan dalam upaya pencegahan COVID-19. Beberapa orang tak siap menjalaninya, itu wajar menurut Mei.

Sebab, di situlah proses perubahan terjadi, akan ada penolakan. Tapi, sejalannya waktu akan terbentuk proses latihan dan kebiasaan itu akan jadi hal normal.

“Saat proses menerima dijalankan dan terjadi proses panjang, pada akhirnya masyarakat akan beradaptasi dan mereka akan menerima proses itu sebagai bagian dari hal yang harus diterima,” terangnya.
Mei memberikan contoh juga bagaimana masyarakat beberapa bulan ke belakang tak akan tahu akan menjalani aktivitas di rumah saja karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Banyak orang yang stres? Banyak jawabannya!

“Tidak hanya stres malah, tapi juga bete, kesal, marah, dan kecewa. Tapi bukankah itu hanya di awal saja? Sekarang malah ada orang yang mungkin menikmatinya, walau tak sedikit juga masih dalam situasi tak nyaman,” ungkap Mei.

Menjadi catatan penting untuk masyarakat bagi Mei adalah bersikap ikhlas dan menerima proses yang terjadi. Berjalannya waktu, proses tersebut akan selesai dan kondisi tak lagi menyudutkan Anda untuk selalu mengeluarkan energi negatif.

“Ingat, ketika kita harus menerima kondisi New Normal, maka yang dapat kita lakukan adalah menerima dengan melakukan perubahan perilaku yang disarankan pemerintah,” papar Mei.

“Lagipula, apakah Anda mau terus dalam keadaan menolak keadaan yang membuat Anda terus berada dalam kesakitan atau Anda menerima prosesnya untuk mengurangi beban yang Anda rasakan?” tambahnya.