Apakah New Normal Jadi Solusi? Ini Kata Pengamat

Foto: Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin (Ist)

MEDAN, Waspada.co.id – Skema new normal yang ditawarkan oleh pemerintah untuk menghidupkan kembali kondisi ekonomi masyarakat setelah pandemi meluluhlantakan kondisi ekonomi masyarakat.

Alhasil pemerintah mengeluarkan skema tersebut dengan 5 tahapan. Di mana pada akhir Juli, aktifitas ekonomi baru dibuka sepenuhnya. Nah di awal Juni nanti, fase I baru mulai akan berjalan meskipun dengan batasan aktifitas yang disesuaikan dengan protokol penanganan Covid-19.

“Jadi New Normal belum sepenuhnya mampu membalikkan kondisi ekonomi masyarakat ke kondisi normal seperti sedia kala. Semuanya masih harus melewati proses. Namun saya memiliki beberapa catatan ekonomi yang bisa dijadikan pertimbangan,” tutur Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, Kamis (28/5).

Pertama, New Normal ini diambil untuk menghindarkan dari tekanan ekonomi yang lebih besar selama pandemic berlangsung. Jadi langkah yang diambil pemerintah ini merupakan reaksi dari tekanan ekonomi yang ditimbulkan dari virus corona.

“Kebijakan ini selain menghidupkan ekonomi masyarakat, juga akan menstimulan daya beli masyarakat, meskipun belum bisa menjadi jalan keluar jitu untuk menuntaskan masalah ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Advertisement

Kedua, New Normal juga memiliki resiko bagi kemungkinan penyebaran corona yang lebih besar kepada masyarakat. Saat jumlah pasien meningkat termasuk juga angka kematiannya. Saya mengkuatirkan pemerintah akan mengambil sikap baru yang bisa saja di luar skema new normal yang diberlakukan.

“Ketiga, masalah mendasar dari pandemic ini adalah belum ditemukannya vaksin maupun obat yang manjur untuk mengatasipasinya. Dan selama vaksin maupun obat tidak ditemukan, maka selama itu pula ketidak pastian ekonomi akan terus terjadi. Sehingga kebijakan New Normal ini bisa saja berubah arahnya nanti saat dijalankan,” jelasnya.

Dan kalau pandemi berakhir, kondisi ekonomi belum akan pulih 100 persen. Dari sisi tekanan ekonomi eksternal kita melihat masih ada perang dagang yang tensinya belakangan terus mengalami peningkatan. Masih ada perebutan wilayah di Laut China Selatan. Masih ada tekanan ekonomi di banyak negara besar yang mungkin masih melakukan recovery atau mungkin masih berjuang melawan pandemi. Dan masih banyak resiko lainnya seperti ketegangan politik hingga potensi penurunan harga komoditas dunia.

“Jadi dengan tekanan ekonomi di tahun 2018 karena perang dagang aja kita sudah mengalami perlambatan di tahun 2019. Dan kondisinya saat ini terus memburuk. Perang dagang, kisruh hubungan politik hingga potensi perang dunia, pandemic corona, resesi di banyak negara, hingga potensi penurunan harga komoditas membuat gambaran ekonomi masih suram,” ungkapnya.

“Saya melihat butuh waktu yang lama bagi ekonomi untuk mengalami pemulihan. Sekalipun pandemic corona berakhir di tahun ini. Recovery butuh setidaknya 1.5 tahun hingga 2 tahun yang akan datang. Jadi kalau nantinya pandemi corona berakhir, kita baru bisa berharap ada pemulihan ekonomi yang lebih menjanjikan di tahun 2020 mendatang,” ungkapnya.

“Itupun masih dengan banyak catatan. Pandemi corona berakhir dan tidak ada lagi perang dagang atau kemungkinan perang yang memicu perang dunia ketiga, atau masalah geopolitik lainnya. Kalau sejumlah resiko itu terjadi. Maka recovery masih akan butuh waktu yang lebih lama lagi,” tandasnya.(wol/eko/data3)

Editor: SASTROY BANGUN