Singkong dan Tikus Bakar, Siasat TKI Hadapi Lockdown Negeri Jiran

Ilustrasi (ist)
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Mujianto (49) duduk memandangi tumpukan batu di pabrik tempatnya bekerja, di Serawak, Malaysia. Ia merasa bosan. Sudah tiga pekan ia tak bekerja akibat kebijakan lockdown merespons pandemi Virus Corona (Covid-19).

Pria asal Blitar, Jawa Timur, ini sadar terkurung di dalam mes pabrik bisa membuatnya stres. Di saat yang sama, pasokan pangan sangat terbatas. Terlebih, rencananya pulang kampung pada musim lebaran 2020 ini batal akibat Corona.

Pemerintah Malaysia sendiri telah memulai kebijakan lockdown tersebut sejak Rabu (18/3). Efeknya, perusahaan-perusahaan berhenti beroperasi. Karyawan-karyawan, termasuk pekerja migran Indonesia (PMI) banyak yang tak digaji. Warga dilarang keluar rumah kecuali untuk urusan darurat.

Serawak, kata dia, bak kota mati. Sebelum virus corona menyerang, negara bagian Malaysia yang ada di utara Pulau Kalimantan ini termasuk salah satu kota yang sibuk. Setiap hari warga hilir mudik dalam kegiatan ekonomi.

“Sejak lockdown semua diam di rumah, situasinya sangat sepi sejak diberlakukan kawalan pergerakan oleh pemerintah Malaysia. Keluar pun harus lapor dan ada penjagaan ketat dari polis,” kata Mujianto, bercerita kepada CNNIndonesia.com melalui telepon, Selasa (7/4).

iklan

Negeri jiran alias tetangga itu pun memberlakukan pengaturan jam belanja dan jam keluar rumah. Warga hanya diperkenankan keluar untuk belanja pada pukul 07.00 hingga 09.00 waktu Malaysia. Sementara, jam keluar sore adalah pukul 17.00 hingga pukul 19.00 waktu setempat. Jalanan pun dijaga ketat oleh polisi dan tentara.

“Kalau tidak ada kepentingan yang sangat penting tidak diperbolehkan keluar,” ucapnya.

Menurutnya, dampak dari karantina wilayah yang paling dirasakan oleh sesama TKI adalah pemangkasan gaji akibat penghentian operasional perusahaan.

Pabrik tempat dia bekerja memiliki 25 buruh migran dari berbagai daerah di Indonesia. Fasilitas industri ini dikelola sejumlah atasan. Tak semuanya masih berbaik hati memberikan gaji saat operasional pabrik ditutup. Sejumlah pekerja pun kehabisan bahan makanan.

Selain itu, Mujianto, yang sudah dua tahun merantau ke Malaysia, mengaku membatalkan rencana mudik lebaran tahun ini akibat corona.

“Tadinya mau ambil cuti panjang, pulang bersama kawan-kawan yang dari Jawa juga. Karena ada yang dari Cilacap, tapi ada corona, ya sudah tidak jadi saja,” sesalnya.

Dia berusaha tetap menjalin komunikasi dengan keluarga. Terlebih, saat tidak bekerja dia tak punya kegiatan lain selain main ponsel.

“Komunikasi tiap hari, malah sering sekali,” kata Mujianto diselingi ketikan emotikon tertawa di ujung kalimatnya.

Pelarian
Dalam perbincangannya dengan CNNIndonesia.com, ia, yang terdengar beraksen Melayu itu, mengungkap sejumlah ‘pelarian’ dari kebosanan dan depresi akibat lockdown.

Pertama, ia mengaku mesti terus melakukan kegiatan. Saat bosan menyerang, Jihan akan berkeliling ke tepi hutan, sekaligus mencari singkong untuk dimakan; sambil menyelam minum air.

“Bukan kekurangan bahan makanan, biar tidak bosan saja nyari singkong di tepi hutan,” aku dia.

Kedua, melihat sisi jenaka dan positif dalam hal-hal remeh. Misalnya, Mujianto berkisah soal salah satu kawannya asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di pabrik yang tak lagi digaji karena operasional perusahaan terhenti. Tanpa penghasilan, apapun jadi bahan santapan, termasuk tikus.

“Yang bakar tikus itu kawan dari NTT untuk salah satu cara menghemat uang karena belum mendapatkan gaji,” katanya, yang mengaku tak tertarik ikut mencicipi tikus bakar itu.

Dia pun berseloroh tikus di tempatnya sudah jadi hewan langka. “Karena ditangkap dan dimakan semua oleh kawan saya itu,” ucap dia sambil tertawa.

Jihan mengaku beruntung memiliki atasan yang pengertian karena tak menghentikan gaji meski pabrik tak beroperasi. Di saat yang sama, tak semua TKI bisa menikmati fasilitas itu.

“Alhamdulillah majikan saya masih bayar gaji walaupun sudah ndak kerja,” katanya.

Tak ketinggalan, cara ketiga, Jihan tak mengeluh atau menyalahkan siapapun, termasuk pemerintah, atas kondisi ini.

Ia mengakui belum ada bantuan atau kontak dari perwakilan RI di Malaysia. Bahkan, informasi terkait perkembangan nasib mereka pun hanya didapat dari pemberitaan. “Di tempat ku belum ada pendataan berhubungan dengan pemulangan,” katanya.

Di saat yang sama, Jihan mengaku ada tiga orang kawannya yang memilih untuk pulang secara mandiri ke Jawa pada 21 April.

“Semoga semuanya segera berakhir. Aku ndak ada salahkan pemerintah atau apa yang tidak bantu kami balek, ndak apa-apa. Kita harus tenang saja, harus ceria, biar tidak terserang corona,” tutur dia.

Saat ditanya soal sikap positifnya itu, Mujianto mengaku harus tetap bisa tersenyum agar tak terlarut dalam getir akibat ‘lockdown’, sekaligus tetap menjaga daya tahan tubuhnya.

“Loh kenapa aku harus ndak hepi? Kalau murung nanti aku stres, mbak. Aku harus seger pikirannya biar tidak gila. Nanti malah masuk penyakit kalau aku stres,” tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut lebih dari 1 juta WNI terjebak kebijakan Movement Control Order (MCO) di Malaysia.

Para WNI itu terdiri dari tiga kluster besar, yakni TKI, anak buah kapal (ABK), dan jemaah tablig. Data per 7 April, 37.222 orang TKI disebut telah kembali ke Indonesia.

Kementerian Luar Negeri juga telah menyalurkan sedikitnya 3.143 paket bantuan logistik untuk tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Anggota Komisi I DPR Teuku Riefky Harsya meminta pemerintah Indonesia menanggung biaya pemulangan para TKI, ABK, dan jemaah tabligh itu.

“Pemerintah perlu menyediakan dana kontingensi untuk evakuasi pemulangan TKI, ABK dan Jamaah Tablig yang tidak mampu,” kata dia, dalam keterangannya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyebut pemulangan WNI itu tak sembarangan dan memiliki banyak syarat. Misalnya, mengantongi sertifikat sehat dari negara terkait, cek kesehatan dan isolasi saat tiba di Indonesia.

“Kita justru berusaha menahan mereka agar tidak pulang, karena sesuai pesan pak presiden tugas kita menjaga keselamatan WNI baik di dalam negeri maupun di luar negeri, kalau yang di luar negeri masih aman sebaiknya di sana dulu, tidak usah pulang,” tandas dia. (cnnindonesia/ags/data2)

Iklan