Sidang Korupsi Wali Kota, Terungkap Samsul Fitri Bangun Rumah Mewah

WOL Photo

MEDAN, Waspada.co.id – Sidang perkara kasus suap Wali Kota Medan Nonaktif, T Dzulmi Eldin, kembali dilanjutkan dengan agenda keterangan saksi-saksi, di PN Medan, Senin (27/4) Majelis Hakim mulai curiga dengan motif Samsul Fitri meminta uang ke kadis-kadis.

Tak jauh berbeda dengan kesaksian yang disampaikan tujuh saksi pada persidangan sebelumnya. Para saksi yang hadir dalam persidangan kali ini sebagian besar mengaku dimintai uang oleh Samsul Fitri, selaku Kasubbag Protokoler, yang mengatasnamakan operasional perjalanan dinas Wali Kota Medan.

Dari keterangan para saksi yang hadir kali ini Majelis Hakim yang diketuai Abdul Azis maupun tim JPU mulai mengendus adanya kemungkinan imbalan tertentu yang diharapkan para saksi menyangkut jabatannya atas pemberian uang kepada Samsul Fitri mengatasnakan Wali Kota Medan.

“Apa motivasi saudara-saudara sebenarnya memberikan uang kepada Samsul Fitri? Apa harapan saudara-saudara sebenarnya? Tolong jujur saja, Anda semua sudah disumpah,” tanya Majelis Hakim kepada seluruh saksi yang hadir.

Para saksi lagi-lagi hanya menjawab bahwa mereka memberikan uang kepada Samsul karena percaya Samsul dengan jabatannya adalah orang kepercayaan Wali Kota Medan.

Advertisement

Kuasa Hukum Terdakwa Dzulmi Eldin, Junaidi Matondang, mengatakan dari persidangan yang berlangsung sampai saat ini pihaknya menyimpulkan bahwa Syamsul Fitri memang memanfaatkan jabatannya sebagai protokoler dalam hal meminta uang kepada kadis-kadis.

Pasalnya para Kadis dan PNS yang hadir memberikan pernyataannya sebagai saksi dalam proses persidangan hingga saat ini tak satupun ada yang menyebutkan bahwa permintaan uang itu secara langsung dari T Dzulmi Eldin.

Bahkan tindakan Syamsul Fitri mengutip uang dari para kadis itu juga masih mereka dalami apakah ada kaitannya dengan proses pembangunan rumah mewah ditaksir miliram rupiah yang dibangun oleh Syamsul Fitri di kawasan Medan Helvetia.

“Kita berkesimpulan bahwa Syamsul Fitri memang memanfaatkan jabatannya meminta uang kepada kadis, karena sampai sejauh ini tidak ada saksi yang menyampaikan secara langsung permintaan itu dari Eldin. Kami juga masih dalami apakah tindakan-tindakan Syamsul Fitri ini ada kaitannya dengan proses pembangunan rumah miliaran rupiah di kawasan Helvetia,” sebut Matondang.

Tujuh orang saksi yang dihadirkan untuk memberikan keterangannya terkait pusaran kasus suap Wali Kota Medan nonaktif tersebut terdiri dari enam orang kepala dinas dan satu kepala seksi di jajaran Pemko Medan.

Ketujuh saksi itu diantaranya Edwin Effendi yang merupakan Kadis Kesehatan Kota Medan, Agus Suriyono Kadis Pariwisata Kota Medan, Beny Iskandar Kadis Perkim Kota Medan, Edliati Kadis Koperasi Kota Medan.

Dammikrot Kadis Perdagangan Kota Medan, M Husni Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan dan Gultom Ridwan Parle yang merupakan Kasi Pengujian Sarana Dinas Perhubunhan Kota Medan.

Sebelumnya, dalam kesaksiannya pada sidang tersebut Gultom Ridwan Parle, Kasi Pengujian Sarana Dinas Perhubungan Kota Medan yang merupakan anak buah Kadis Perhubungan mengaku tiga kali disuruh iswar mengantarkan uang ke Andika yang merupakan ajudan Wali Kota sesuai perintah Samsul Fitri. Pertama Rp20 juta, yang kedua Rp20 juta dan terakhir Rp200 juta.

Sedangkan Edwin Effendi, Kadis Kesehatan Kota Medan mengaku memberikan uang Rp30 juta atas permintaan Samsul Fitri. Menurut Edwin, uang itu dikatakan Syamsul kepadanya untuk keperluan operasional Wali Kota Medan.

Sedangkan Agus Suriyono Kadis Pariwisata Kota Medan mengaku pernah bertemu Samsul Fitri dan mengaku diminta mendukung kegiatan Pak Wali. Agus memberikan uang Rp50 juta dalam tiga kali pemberian.

Benny Iakandar Kadis Perkim Kota Medan, mengaku diminta uang untuk sumbangan. Meski ia mengaku tak mengatahui pasti kebenaran uang tersebut untuk disumbangkan, namun ia mengaku percaya dengan Samsul Fitri.

Sementara, Kadis Koperasi Kota Medan, Edliati, mengaku sejak april 2019 dihubungi Samsul Fitri, yang memohon bantuan dengan alasan walikota mau berangkat keluar kota. “Bagaimana kalau ibu tidak bayar Rp10 juta itu? itu untuk Syamsul sendiri, atau untuk Wali Kota? tanya hakim. Saksi menjawab dirinya tidak mengetahui pasti.

Dammikrot Kadis Perdagangan Kota Medan mengaku diminta uang Rp20 juta oleh Syamsul Fitri dengan alasan untuk keperluan Wali Kota berangkat ke Jepang. Ia mengaku memberikan uang itu karena menurut Samsul untuk keperluan Wali Kota.

Hakim bertanya, “Apakah karena Samsul yang minta? atau karena sebagai Kasubbag Protokoler Wali Kota? tanya Hakim lagi. Saksi menjawab karena karena Syamsul Kasubbag Protokol maka ia mengira Wali Kota lah yang meminta.

Demikian, usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan. “Sidang kita tunda sampai Minggu depan dengan agenda keterangan saksi,” tutup Hakim. (wol/ryan/data3)

Editor: SASTROY BANGUN