Kasus Corona Eropa Melambat, AS Makin Gawat, Afrika Mengkhawatirkan

Foto: Ilustrasi. (Alberto Pizzoli/AFP)

Waspada.co.id – Eropa menanggung beban terbesar pandemi virus corona (SARS-CoV-2) dengan 45 ribu kematian terjadi di benua itu. Angka ini setara dengan tiga perempat dari korban tewas Covid-19 di seluruh dunia.

Untuk pertama kali, jumlah kasus positif corona di Italia menurun, Sabtu (4/4). Kepala Perlindungan Masyarakat, Angelo Borrelli, mengumumkan jumlah kasus turun dari 4,068 pada Jumat (3/4) ke 3,994 pada Sabtu (4/4).

Pandemi virus corona telah menyebabkan 15.362 orang tewas di negara itu. Wabah ini telah menimbulkan kematian terbesar di negara itu setelah Perang Dunia II. Angka kematian terburuk di Italia ada di angka 969, nyaris menyentuh angka seribu orang tewas dalam sehari.

Meski demikian, Pada Kamis dan Jumat, jumlah korban tewas di AS menyentuh angka 1.500 orang.

Pemerintah Kota New York, sebagai pusat pandemi, meminta siapapun dengan lisensi medis untuk menjadi tenaga sukarela. Pasalnya tenaga medis kota itu mulai kewalahan menangani pasien positif Covid-19. Secara keseluruhan di AS, 7 ribu orang tewas akibat penyakit ini.

Advertisement

Borelli sangat berhati-hati untuk tidak memberi ‘harapan palsu’ bagi warga Italia. Sehingga, pejabat pemerintah masih belum menyatakan kemenangan melawan wabah ini. Mereka masih menyatakan lockdown akan dilakukan sebulan lagi untuk menghindari infeksi baru.

Hal serupa terjadi di Spanyol yang juga mengalami penurunan kematian terkait virus corona dalam dua hari berturut-turut dengan 809 kematian. Spanyol menanggung total kematian kedua terbesar di dunia setelah Italia dengan 11.744 orang.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez telah mengumumkan perpanjangan penguncian negara itu sampai 25 April.

Di rumah sakit lapangan di Madrid yang didirikan di pusat konferensi, staf beristirahat untuk bertepuk tangan setiap kali seorang pasien cukup sehat untuk dipulangkan

Beberapa negara di Eropa seperti Jerman dan Prancis dalam beberapa hari terakhir mendorong warga mereka untuk menggunakan masker di tempat umum.

Padahal sebelumnya, pemerintah menyebut masker hanya dibutuhkan oleh mereka yang sakit. Belakangan, WHO pun mengoreksi pernyataannya terdahulu dan merekomendasikan agar orang sehat pun menggunakan masker untuk memperlambat penularan Covid-19.

Meski demikian, kondisi di Inggris masih suram. Angka kematian total di negara itu meningkat menjadi lebih dari 4.300 dari hampir 42.000 kasus.

Sementara di China, warga telah melewati masa berkabung bagi kerabat yang tewas akibat wabah ini. Di seluruh negeri, mobil, kereta api dan kapal membunyikan klakson mereka, dan sirene serangan udara meraung. Meski demikian, penduduk China masih waspada akan kemungkinan wabah susulan.

Meski demikian, kemungkinan terburuk masih membayang di wilayah negara miskin. Terutama pada kawasan konflik dan tempat dengan populasi pengungsi yang besar.

“Yang terburuk belum datang,” kata ketua PBB Antonio Guterres. Pernyataan ini merujuk pada negara-negara seperti Suriah, Libya dan Yaman, seperti dikutip AFP.

Selain itu di Afrika, wabah ini belum menyerang dengan kekuatan penuh. Kekhawatiran terus meningkat tentang bagaimana benua itu akan mengatasinya. Sebab, diperkirakan pandemi ini akan menyebabkan kekurangan makanan bagi ratusan juta orang di Afrika. (cnn/data3)