IRT Jalani Sidang Daring Perdana Kasus Pemalsuan Surat

WOL Photo

BELAWAN, Waspada.co.id – Pengadilan Negeri Cabang Lubukpakam yang berlokasi Labuhandeli melaksanakan sidang daring perdana, Rabu (8/4).

Dalam sidang perdana secara online ini menghadirkan terdakwa DS alias Tika (27) warga Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, ibu rumah tangga (IRT) yang bekerja outsourcing di PT SG Kawasan Industri Medan II yang terjerat kasus dugaan pemalsuan surat milik perusahaan.

Adapun agenda sidang yang dipimpin Majelis Hakim Lina dengan membacakan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Richard Simaremare berlangsung di Aula Cabjari Lubukpakam di Labuhandeli.

Dalam dakwaan Richard mengatakan dugaan pelanggaran pasal 263 ayat (1) KUHpidana terhadap terdakwa DS tersebut. Menanggapi itu, penasehat hukumnya Rudiansyah dari LBH Dwi Pantara yang menyatakan siap mengajukan eksepsi pada sidang pekan depan.

“Karena kami menilai dakwaan itu secara materiil tidak tepat,” katanya seusai sidang.

Advertisement

Rudiansyah menyebutkan kliennya yang dikarunia dua balita itu bekerja sebagai kasir di perusahaan pengolahan jagung SG sejak sembilan tahun lalu, tepatnya awal Januari 2011. Pada Agustus 2019, DS yang awalnya disalurkan perusahaan penyalur tenaga kerja (outsourcing) PT Sarparilla itupun terkena PHK oleh PT SG.

Melalui perwakilan kenalan dari pihak keluarganya, DS kemudian mengadukan masalah ini kepada pihak Disnakertrans Kabupaten Deliserdang.

“Tujuannya agar bisa mendapatkan pesangon dari PT SG, dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan biaya hidupnya yang kondisinya kini kurang mampu,” sebutnya.

Namun untuk langkah mediasi pengajuan itu, Rudi menuturkan pihak Disnakertrans meminta DS untuk menunjukkan surat bukti pernah bekerja dari PT SG tersebut. Melalui atasannya bernama Marjoko, akhirnya DS pun mendapatkan surat tersebut.

Belakangan terkait keluarnya surat tersebut dipermasalahkan pimpinan atau pemilik PT SG yang menilai Marjoko sebagai atasan DS telah mengeluarkan surat palsu dan menyalahi wewenang. DS dituduh menggunakan dugaan surat palsu itu untuk kepentingan pribadi, sehingga bersama manajer Marjoko pun ditahan di Mapolres Pelabuhan Belawan dan kasus disidangkan.

“Tidak ada niat klien kami untuk melakukan tindak pidana yang disangkakan jaksa tersebut. Diharapkan surat pernah bekerja itu akan digunakan sebagai rekomendasi bagi DS agar bisa diterima bekerja di tempat lain,” pungkasnya. (wol/ril/data3)

editor SASTROY BANGUN