Alasan Keamanan, Karyawan Google Dilarang Pakai Zoom

Ilustrasi (Ist)

Waspada.co.id – Google mengeluarkan kebijakan melarang karyawannya menggunakan Zoom karena masalah keamanan. Perusahaan itu khawatir dengan layanan keamanan pada aplikasi konferensi video gratis Zoom yang populer selama pandemi Covid-19.

Larangan menggunakan Zoom diterima oleh karyawan melalui email beberapa hari lalu. Google mengatakan kepada karyawan bahwa Zoom tidak akan berfungsi lagi pada perangkat Google.

Dalam imbauan itu, Google memerintahkan karyawan untuk menggunakan Meet, salah satu fitur untuk meeting punya perusahaan mesin pencari terbesar dari Amerika Serikat itu.

“Kami telah lama memiliki kebijakan untuk tidak mengizinkan karyawan menggunakan aplikasi yang tidak disetujui untuk pekerjaan yang berada di luar jaringan perusahaan kami,” kata juru bicara Google Jose Castaneda, melansir The Verge.

Castaneda mengatakan tim keamanan Google telah memberi tahu karyawan bahwa Zoom tidak memenuhi standar keamanan perusahaan. “Karyawan yang telah menggunakan Zoom untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan teman dapat terus melakukannya melalui browser web atau melalui ponsel,” ujarnya.

Advertisement

Kritik atas keamanan Zoom bukan baru terjadi. Sebelum pandemi Covid-19, telah perusahaan menghadapi kritik karena privasi yang lemah dan perlindungan keamanan, seperti pada bulan Juli tahun lalu ketika cacat macOS memungkinkan URL Zoom dapat secara sepihak mengaktifkan webcam MacBook.

Melansir Business Insider, Zoom juga dihadapkan dengan ‘Zoombombing’, di mana orang asing dapat bergabung dalam sebuah konferensi meski tidak diundang. Tak hanya itu, Zoom juga diketahui berbagi data yang tidak diungkapkan dengan Facebook.

Google bukan perusahaan pertama yang melarang penggunaan Zoom. Tesla juga melakukan hal yang sama awal bulan ini karena masalah keamanan dan meminta karyawan untuk mengandalkan panggilan telepon, email (surat elektronik), dan pesan singkat sebagai gantinya.

CEO Zoom Eric Yuan mengatakan pihaknya telah merespon masalah tersebut dan akan menghentikan pengembangan fitur baru selama 90 hari agar fokus mengatasi masalah pada privasi dan keamanan. (cnnindonesia.com/data3)