Saksi Sebut Imam Nahrawi Pernah Minta Rp700 Juta dan Rp5 M Melalui Aspri

Mantan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Alfitra Salamm (Ist)
Iklan

JAKARTA, Waspada.co.id – Mantan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Alfitra Salamm menyebut Imam Nahrawi pada tahun 2015 dan 2016 lalu pernah meminta uang Rp700 juta dan Rp5 miliar kepada dirinya.

Untuk duit Rp700 juta, dia menyebut Imam memintanya untuk keperluan kegiatan organisasi keagamaan.

Alfitra menyampaikan itu saat bersaksi untuk terdakwa Imam dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap dana hibah kepada KONI di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (11/3).

Menurut Alfitra, permintaan itu disampaikan oleh asisten pribadi Imam, Miftahul Ulum.

“Waktu itu (Ulum) nengatakan begini, ‘Bahwa big boss butuh bantuan, mau ada kegiatan keagamaan pada Agustus, tanggal 6 Agustus, maka urgent untuk dibantu’,” kata Alfitra menirukan ucapan Ulum.

iklan

Alfitra mengatakan, awalnya Ulum meminta uang sebesar Rp500 juta hingga Rp700 juta. Saat itu, ia mengaku Kemenpora tidak memiliki anggaran untuk bantuan organisasi keagamaan.

Namun, Ulum terus mendesaknya agar segera menyiapkan uang yang diminta. Akhirnya, Ulum meminta dia untuk menghubungi mantan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy untuk meminta bantuan.

“Saya akhirnya telepon saudara Hamidy, Sekjen KONI. Kebetulan dia pengusaha,” ujarnya.

“Saya minta bantuan, kalau bisa supaya dibantu lah, saya bilang gitu,” lanjut Alfitra.

Hamidy sempat keberatan dengan permintaan tersebut. Namun, menurut Alfitra, Hamidy akhirnya hanya mampu memberikan uang Rp300 juta terkait permintaan Imam untuk organisasi keagamaan itu.

Kemudian Hamidy bersama Alfitra menemui Imam dan Ulum di sebuah rumah kontrakan di Jombang, Jawa Timur. Saat itu uang langsung diserahkan kepada Ulum yang disaksikan oleh Imam.

“Saya menyampaikan kepada terdakwa mohon maaf baru sekarang saya bisa bantu, kata terdakwa terima kasih,” ujarnya.

Dalam perkara ini, Imam didakwa menerima suap senilai Rp11,5 miliar terkait pembiayaan dengan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora pada KONI tahun anggaran 2018. Uang tersebut diterima Imam secara bersama-sama dengan Ulum.

Keduanya diduga menerima uang dari mantan Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy dan mantan Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy. Uang suap itu diduga terkait proses percepatan dana hibah dari Kemenpora.

Mundur Setelah Diminta Rp5 Miliar
Pada kesempatan yang sama, Alfitra juga menyebut Imam melalui asistennya, Ulum juga pernah minta duit Rp5 miliar pada 2016. Setelah permintaan itu, Alfitra pun mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sesmenpora.

Alfitra mengatakan, permintaan uang itu disampaikan Ulum sekitar bulan Maret atau April 2016. Menurut dia, Ulum menyampaikan uang yang diminta itu untuk kepentingan Imam.

“Saya waktu itu hanya merenung saja, saya enggak mungkin bisa bantu, uang juga tidak ada peruntukan, kemudian saya juga sudah merasa di kantor ini tidak kondusif, tidak nyaman, maka bulan Juni saya sudah mengundurkan diri,” kata Alfitra.

Alfitra mengaku sempat menyampaikan keluhannya ke Hamidy, yang dalam perkara ini telah divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.

Saat itu, Hamidy menyarankan agar segera mengundurkan diri dari jabatannya. Hamidy, kata Alfitra, melihat dirinya sudah tidak sanggup bekerja di bawah kepemimpinan Imam di Kemenpora.

“Kata Pak Hamidy, ‘Yaudah, daripada lo sakit jantung, lo ngundurin diri aja’, akhirnya saya ngundurin diri,” ujar Alfitra.

Kemudian pada 20 Juni 2016, Alfitra menyusun surat pengunduran diri. Namun, ia tidak menyerahkan langsung surat itu kepada Imam.

Kendati begitu, Alfitra mengaku sempat mengirimkan pesan singkat lewat aplikasi WhatsApp ke Imam perihal pengunduran dirinya.

“Terdakwa menyampaikan (lewat WhatsApp) terima kasih dan telah menerima pengunduran diri saya. Kira-kira intinya gitu. Setelah itu tidak ketemu lagi,” ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Jaksa pada KPK sempat mengonfirmasi soal kabar Ulum selaku asisten Imam sempat mengancam dan menekan Alfitra jika tidak memberikan uang kepada Imam. Alfitra membenarkan ancaman tersebut.

Alfitra juga menambahkan bahwa Ulum kerap meminta uang kepada jajaran pejabat di Kemenpora. Setiap permintaan itu selalu mengatasnamakan Imam selaku Menpora saat itu.

“Saya hanya mendengar ada beberapa permintaan dari Pak Ulum. Pak Ulum minta kepada beberapa pejabat di lingkungan Kemenpora, termasuk deputi,” ujarnya.

Imam didakwa melanggar melanggar Pasal 12 huruf a jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Selain itu, ia juga didakwa melanggar Pasal 12 B Ayat (1) jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP. (cnnindonesia/ags/data3)

Iklan