Mengenal Istilah ODP, PDP dan OTG Terkait Virus Corona

Ilustrasi pasien virus corona. (STR/AFP)

MEDAN, Waspada.co.id – Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr. Aris Yudhariansyah, di kanal resmi @Humas Sumut, kembali menjelaskan terkait perkembangan jumlah pasien yang saat ini ada di Sumut.

Banyak istilah yang beredar di masyarakat yang belum dijelaskan secara rinci terkait klasifikasi orang-orang yang terpapar Virus Corona (Covid-19). Agar tak mengundang kekeliruan, berikut penjelasan terkait 3 klasifikasi terkait Covid-19; ODP, PDP dan OTG.

“Yang pertama, Orang Dalam Pemantauan (ODP), yaitu; 1. Orang yang mengalami demam (≥38C) atau riwayat demam; atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal,” jelasnya.

Kemudian, ke-2; Orang yang mengalami gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk, dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19.

Dijelaskan juga, ada juga istilah Pasien Dalam Pengawasan (PDP), yaitu; 1. Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam (≥38C) atau riwayat demam; disertai satu di antara gejala/tanda penyakit pernapasan seperti: batuk/sesak napas/sakit tenggorokan/pilek/pneumonia ringan hingga berat. Dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan transmisi lokal

Advertisement

Yang ke-2, kata Aris, orang dengan demam (≥38oC) atau riwayat demam atau ISPA, dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19;

“Ke-3, yaitu orang dengan ISPA berat/pneumonia berat, yang membutuhkan perawatan di rumah sakit, dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkanm” ungkap Aris.

Kemudian, ada klasifikasi ke-3 yaigu; Orang Tanpa Gejala (OTG,). “Adalah seseorang yang tidak bergejala, dan memiliki resiko tertular dari orang yang dinyatakan posisif secara laboratorium. Kontak erat yang melakukan kontak fisik dengan pasien positif,” jelasnya.

“Kontak erat artinya, orang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam ruangan dalam radius satu meter dengan kasus pasien PDP corona, dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala,” tambahnya.

Di antara contoh orang yang disebut kontak erat, yaitu; 1. Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat dan mengantar serta membersihkan ruangan tempat perawatan kasus positif corona tanpa menggunakan alat pelindung diri yang sesuai standar.

Yang ke-2; orang yang berada dalam satu ruangan dengan kasus (pasien corona) termasuk tempat kerja, kelas, di rumah atau di ruang pertemuan yang besar selama 2 hari atau sebelum timbul gejala hingga 14 hari setelah timbul gejala.

“Ke-3, kontak erat di sini adalah, orang yang bepergian bersama-sama dengan radiusnya kurang lebih satu meter, dengan segala jenis alat angkutan dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala atau 14 setelah timbul gejala,” beber Aris. (wol/ags/data3)

Editor: Agus Utama